Selasa, 17 April 2018

PSIKOLOGI ANALITIK JUNG


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar belakang
    Dari beberapa tokoh psikologi diantarnya adalah Carl Gustav Jung. Ia menjadi terkenal ketika ia bekerjasama dengan Sigmundfreud. Tapi ketika mulai ada perbedaan diantara mereka tentang teori ketidaksadaran, Jung memilih untuk meninggalkan Sigmund dan mengeluarkan teori-teori khasnya.
  2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana biografi Jung?
  2. Seperi apa dinamika kepribadian menurut Jung?
  3. Bagaimana tipologi kepribadian menurut Jung?
  4. Bagaimana perkembangan kepribadian menurut Jung?

  1. Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui biografi Jung.
  2. Untuk mengetahui dinamika kepribadian menurut Jung.
  3. Untuk mengetahui tipologi kepribadian menurut Jung.
  4. Unuk mengetahui perkembangan kepribadian menurut Jung.















BAB II

PEMBAHASAN



  1. Biografi Jung
    Carl Gustav Jung, lahir 26 Juli 1875 di desa Kesswil (dekat Basel, Swiss) di pinggir danau Konstanz (Bodensee). Ia seorang anak laki-laki tunggal dari Paul Jung. Seorang pendeta desa dan ibunya bernama Emilie Preswerk Jung. Dia lahir di tengah keluarga besar yang cukup berpendidikan. Di antara anggota keluarga besar Jung senior ada yang jadi pendeta dan mempunyai pemikiran yang eksentrik.
    Jung senior mulai mengajari Jung bahasa latin ketika dia berumur 6 tahun, dan inilah yang menjadai awal minatnya pada bahasa dan sastra khususnya sastra kuno. Di samping bahasa-bahasa eropa barat modern, Jung juga dapat membaca beberapa bahasa kuno, termasuk sangsekerta, bahasa asli kitab suci umat hindu.
    Ayah Carl Gustav Jung adalah seorang filolog dan seorang pendeta protestan, yang lahir dari keluarga yang banyak menghasilkan banyak ahli kitab suci, teolog, dan dokter. Kakek Jung dari pihak bapak adalah anggota dewan katolik di kota Meinz (jerman). Tapi moyangnya menjadi protestan sebab dipengaruhi oleh Schleiermacher pada tahun 1813. Warisan religius inilah yang dikemudian hari sangat mempengaruhi Jung dan intresnya yang sangat besar tehadap masalah- masalah relegius dalam psikologinya dan mempengaruhi psikologi arketepis tentang kristus dan psikologi tentang protestanisme dan katolisisme.
    Carl Gustav Jung remaja adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan tidak peduli dengan masalah sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Kemudian dimasukan di sekolah asrama Bassel, swis. Di sini ia merasa tertekan karena dicemburui teman- temanya. Lalu dia mulai sering bolos dan pulang ke rumah dengan alasan sakit, mulai belajar dalam keadaan perasaan tertekan.
    Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran ia belajar Biologi, zoologi, paleontologi, dan arkeologi. Penyelidikanya dalam bidang filsafat, mitologi, literatur kristen dari abad- abad pertama, misistisisme, ghotisisme, dan alkemia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam penelitian- penelitian ilmiah. Latar belakang dan pikiran-pikiranya yang memadukan antara ilmu eksakta dan ilmu humanisme, dapat menghasilkan sebuah pemikiran yang unik dan mempersatukan dua pemikiran yang berbeda dalam satu kestuan.(integral), Sehingga ia dapat mengungkapkan dengan baik struktur dari psike.
    Carl Gustav Jung menjadi asisten dokter pada klinik psikitari di Burgholzli pada Universitas di Zurich di bawah Eugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar dokter dengan desertasinya “Zur Psychologie und Phatalogy of So-Called Occult Phanomane” (On the Psychology and Pathalogy of So Called Occult Phenomena). Dalam desertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasarnya, yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar dari semua gej ala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa ia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.
    Jung mengawali kariernya di paris, pada tahun 1902, dengan menghadiri kuliah pertama kalinya dari Pierre Janet, kemudian ia melanjutkan pejalananya ke London. Pada tahun 1903, Jung kemudian menikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan kawan sekaligus pendampingnya dalam bidang ilmu sampai kematianya tahun 1955.
    Teori kompleks yang isinya mengenai sekelompok psikis, atau psikis emosional (feeling-toned) yang ditekan, merupakan hasil penyelidikan eksperimental pertama yang dipimpinya dalam kerja sama dengan Franz Rikin dan ilmuwan lainya pada tahun 1904, dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien”. Karya ini menjaidikanya populer dan sebagai jembatan bertemunya dengan Sigmund Freud tahun 1907 dalam tulisanya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirnmasi (pengesahan) atas penyelidikanya sendiri Bahkan Freud akhirnya menyadari bahwa Jung adalah putra mahkota psikoanalisis dan pewaris tahtanya.
    Akan tetapi Carl Gustav Jung tidak sepenuhnya mematok dan berpegang pada teori Freud. Hubungan mereka merenggang pada tahun 1909, sewaktu keduanya pergi ke Amerika. Dalam sebuah pertemuan, keduanya berdebat panjang tentang mimpi masing-masing, dan Freud mulai membantah analisis Jung dengan cara yang menurut Jung tidak elegan. Akhirnya dia menyerah dan mengusulkan agar perdebatan mereka dihentikan, kalau dia tidak ingin ototritasnya hancur. Jung sangat kecewa dengan kejadian ini.
    Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan kariernya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische Forscchungen (yearbook For Psychologikal Research) yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua National Psychoanalytic Society, dimana ia sendiri yang mendirikanya, dan masih merupakan organisasi profesional Freudian. Jung menjelaskan pandangan- pandangan baru yang berbeda dari pandangan Freud dalm buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbol nd Wandlungen der libido, kemudian diterbitkan lagi dengan judul symbol and wandlung (symbol and transformation).
    Semakin lama Carl Gustav Jung semakin tertarik untuk mendalami simbol- simbol mitologis dan simbol-simbol relegious. Pada awal pecah perang dunia I, mulailah sebuah peristiwa introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada puiblikasi) yang berakhir sampai diterbitkanya Psychologcal Types tahun 1921. Dari karyanya ini, Jung membedakan diri posisinya dari Freud dan meletakan dasar psikologi analitis. Pada tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algaraia; dari tahun 1924- 1925.
    Pada tahun 1948, Institut C. G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajaranya dan sebagai pusat latihan dan analis. Karya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (perkumpulan Psikologi Analitis), dan di beberapa perkumpulan lain di New York, Sanfrancisco, Los Engeles dan beberapa negara Eropa.
    Perang dunia pertama adalah masa menyakitkan bagi Jung. Akan tetapi masa ini merupakan batu loncatan baginya untuk melahirkan teori- teori kepribadian yang tiada duanya di dunia. Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan keberbagai negara, misalnya, ke suku-suku primimitif di Amerika, Amerika dan India. Dia pensiun pada tahun 1946 dan mulai menarik diri dari kehidupan umum setelah istrinya meninggal pada tahun 1955. C.G. Jung meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Zurich.[1]
  2. Dinamika Kepribadian
    Jung memandang kepribadian atau spikhe sebagai sistem energi yang setengah tertutup. Ia tidak disebut sama sekali tertutup karena energi dari sumber-sumber luar harus ditambahkan pada sistem, misalnya dengan makan, atau dikurangi dari sistem, misalnya dengan melakukan pekerjaan yang menggunakan otot. Stimulus-stimulus lingkungan juga bisa menghasilkan perubahan-perubahan pada distribusi energi dalam sistem. Ini terjadi, misalnya, manakala perubahan tiba-tiba di dunia luar mengubah arah perhatian dan persepsi kita. Fakta bahwa dinamika kepribadian rentan terhadap pengaruh-pengaruh dan modifikasi-modifikasi dari sumber-sumber luar berarti bahwa kepribadian tidak mungkin mencapai keadaan stabil secara sempurna, yang bisa terjadi kalau ia merupakan system yang sepenuhnya tertutup. Kepribadian hanya bisa menjadi stabil secara relatif.[2]

  3. Tipologi Manusia Menurut Jung
    Struktur jiwa manusia hasil pemikiran Jung tersebut kemudian dilaporkan kepada public, hingga berdampak pada dirinya dijuluki sebagai seorang tipolog. Gagasan penting dari Jung yaitu didalam jiwa manusia terdapat kesadaran dengan empat fungsi yang fundamental, yaitu dua fungsi yang rasional dan dua fungsi urasional. Fungsi-fungsi yang sifatnya rasional misalnya tentang fikiran dan perasaan. Sementara fungsi- fungsi yang irasional misalnya pengidraan dan intuisi. Pada setiap individu yang normal dipastikan memiliki kesadaran dengan fungsi-fungsi tersebut.
    Untuk lebih memperkuat pandangan-pandangan yang telah dilaporkan kepublik Jung  menjelaskan bahwa fikiran dan perasaan pada manusia yang ia maksudkan tersebut dikatakan mempunyai fungsi yang rasional hal ini disebabkan kedua fungsi tersebut mempunyai tugas menilai pikiran dengan kriteria benar dan salah. Perasaan menilai dengan  kriteria buruk dan baik. Sementara pengindraan dan intuisi mempunyai fungsi fundamental yang irasional sifatnya. Mengapa demikian? Menurut Jung pengidraan dan intuisi tugasnya tidaklah memberikan penilaian, tetapi hanyalah mengamati. Untuk membedakan pengertian yang sifatnya mendasar maka dalam hal ini pengamatan yang menggunakan indra disebutnya sebagai pengamatan. Sementara itu, pengamatan yang menggunakan insting disebutnya sebagai suatu intuisi. Untuk yang disebut terahir, yaitu intuisi sifatnya tidak disadari oleh individu.
    Jung menegaskan bahwa salah satu dari empat fungsi dasar tersebut dapat berpengaruh terhadap tiap-tiap pokok persoalan. Berdasarkan pemikiran seperti ini, Jung mengajukan delapan tipe manusia. Jika dihitung sesuai persamaan matematis diperoleh delapan tipe manusia, yaitu 2x4 tipe =8 tipe. Hasil pemikiran Jung mengenai tipologi manusia tersebut jika ditunjukan dalam bentuk skema, tampak seperti gambar dibawah ini.


Tipe Manusia
A.      Introvert
B.      Extrovert
1.       Pikiran
2.       Perasaan
3.       Pengindraan
4.       Intuisi
1.       Pikiran
2.       Perasaan
3.       Pengindraan
4.       Intuisi















Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, fungsi-fungsi jiwa manusia menurut Jung secara ringkas dapat dituliskan seperti dalam tabel berikut:

Fungsi jiwa
Sifatnya
Cara kerja
Pikiran
Rasional
Dengan penilaian : benar-salah
Perasaan
Rasional
Dengan penilaian : senang-tak senang
Pendirian
Irasional
Tanpa penilaian : sadar indriyah
Intuisi
Irasional
Tanpa penilaian : sadar naluriah



Jung menjelaskan antara empat fungsi yang fundamental tersebut, memungkinkan untuk terjadinya sesuatu yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan dalam kesadaran. Contohnya, jika dalam tubuh salah satu fungsi tubuh menjadi fungsi yang superior akibatnya selalu akan terjadi hubungan konvensatoris. Hal itu artinya fungsi yang selapangan dengan fungsi tersebut menjadi fungsi yang inverior. Jika hubungan itu membesar, akan selalu terjadi gangguan keseimbangan yang membawa manusia ke suatu perbuatan yang tidak terkuasai dan terkendalikan.

Menurut Jung, kesadaran manusia mengadakan hubungan dengan dunia luar menunjukkan dua sikap utama yaitu introvert dan extrovert. Dikatakan bersikap introvert jika sikap kesadaran seseorang mengarah ke dalam dirinya sendiri. Sementara sikap yang extrovert artinya sikap kesadaran yang mengarah ke luar dirinya, yaitu kepada alam sekitar dan manusia lain. Manusia yang mempunyai tipe sikap introvert umumnya mempunyai minat pokok pada dunia subjektif yang dijadikan sebagai asas-asas pertimbangan. Selain hal itu orang dengan sikap bertipe introvert suka tenggelam dalam dirinya sendiri. Sementara sikap orang bertipe extrovert umumnya mempunyai minat pokok kepada dunia luar dan menganggap dunia objektif sebagai nilai-nilai esensial dalam hidupnya.

Sifat-sifat manusia dengan sikap bertipe introvert dan extrovert menurut pandangan Jung seperti dikemukakan berikut ini.

  1. Sifat-sifat manusia bertipe introvert

  1. Ia memiliki kecenderungan dan lebih suka ; memasuki ; dunia imajiner, disamping memiliki kebiasaan untuk merenungkan hal-hal yang bersifat kreatif.
  2. Ia termasuk individu yang produktif dan ekspresinya diwarnai oleh perasaan-perasaan subjektif. Pusat kesadaran dirinya adalah kepada egonya sendiri dan sedikit perhatian pada dunia luar.
  3. Ia memiliki perasaan halus dan cenderung tidak melahirkan emosi secara mencolok. Ia mempunyai kebiasaan melahirkan ekspresinya dengan cara-cara yang halus dan jarang ditemukan pada orang lain.
  4. Ia memiliki sikap yang umumnya sangat tertutup sehingga ketika terdapat konflik hanya tersimpan dalam hati. Ia umumnya berusaha untuk dapat menyelesaikan sendiri segala permasalahan, termasuk timbulnya konflik-konflik pada dirinya.
  5. Ia memiliki banyak pertimbangan sehinggga ia sering mengadakan self analyisis dan self critism.
  6. Ia bersifat sangat sensitif terhadap kritik. Pengalaman-pengalaman pribadi bersifat mengendap dalam kenangan yang kuat, lebih-lebih hal-hal bersifat pujian atau celaan tentang dirinya.
  7. Ia memiliki sifat yang memurung dan selalu memiliki kecenderungan bersikap menyendiri.
  8. Ia berpembawaan lemah lembut dalam tindak dan sikapnya serta mempunyai pandangan yang idealis.

  1. Sifat-sifat manusia bertipe extrovert

  1. Ia memiliki kecenderungan dsan menyukai partisipasi pada realita social dalam dunia objektif. Individu dengan bersifat extrovert dalam peristiwa-peristiwa praktis umumnya lancar dalam pergaulan.
  2. Ia bersikap realistis, aktif dalam bekerja, dan komunikasi sosialnya baik serta bersifat ramah tamah.
  3. Ia berpembawaan riang gembira, bersikap spontan dan wajar dalam ekspresi serta menguasai perasaan.
  4. Ia bersifat optimis, tidak putus asa menghadapi kegagalan atau dalam menghadapi konflik-konflik pekerjaan. Ia selalu tenang dan suka bersikap mengabdi.
  5. Ia tidak begitu banyak pertimbangan dan kadang-kadang sering tidak terlalu banyak analisis serta kurang self critism serta berfikir kurang mendalam.
  6. Ia memiliki sifat yang relatif independen dalam mengeluarkan pendapat. Ia juga mempunyai cita-cita yang bebas.
  7. Ia memiliki keuletan dalam berfikir, tetapi ia mempunyai pandangan bersifat prakmatis.[3]     

  1. Perkembangan Kepribadian
    Perkembangan kepribadian menurut Jung lebih lengkap dibandingkan dengan Freud. Jika pandangan Freud bersikap mekanistik atau kausalistik, semua peristiwa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi dimasa lalu, Jung mengedepankan pandangan purposive atau teleologik yang menjelaskan kejadian sekarang ditentukan oleh masa depan atau tujuan. Prinsip mekanistik akan membuat manusia menjadi sengsara karena terpenjara dimasa lalu. Manusia tidak bebas menentukan tujuan atau membuat rencana karena masa lalu tidak dapat diubah. Sebaliknya, prinsip purposive membuat orang mempunyai perasaan penuh harapan, ada sesuatu yang membuat orang berjuang dan bekerja.
    Menurut Jung, peristiwa psikis tidak selalu dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat. Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena sulit membedakan mana yang masa lalu dan mana yang masa depan, hal inilah dinamakan prinsip sinkronisitas. Jung memakai prinsip sinkronisitas untuk menjelaskan kata kerja arsetip. Arsetip sebagai isi tak sadar tidak menjadi sebab terjadinya peristiwa mental atau fisik. Prinsip sinkronisitas lah yang membuat peristiwa mental atau fisik terjadi bersamaan dengan aktifnya isi-isi tak sadar.
    Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan yang disebut realisasi diri. Orang dikatakan mencapai realisasi diri, kalau dia dapat mengintegrasikan semua kutub-kutub yang berseberangan dalam jiwanya, menjadi kesatuan pribadi yang homogeny. Realisasi diri berarti meminimalkan persona, menyadari anima atau animusnya menyeimbangkan inroversi dan ekstraversi, serta meningkatkan empat fungsi jiwa yaitu pikiran, perasaan, panca indra, dan intuisi dalam posisi tertinggi. Realisasi juga berarti asimilasi tak sadar kedalam keseluruhan kepribadian, dan menyatukan ego dengan self sebagai pusat kepribadian. Realisasi diri umumnya hanya dapat dicapai sesudah usia pertengahan melalui proses individuasi dan proses transendensi.

  1. Individuasi
    Adalah proses analitik memilah-milah, memperinci dan mengelaborasi aspek-aspek kepribadian. Apabila ada sesuatu bagian kepribadian yang terabaikan, maka system yang terabaikan itu menjadi kurang berkembang dan akan menjadi pusat resistensi. Jiwa yang memiliki banyak resistensi bisa memunculkan gejala-gejala neurotic.

  2. Transendensi
    Adalah proses sintetik, mengintegrasiksn materi tak sadar dengan materi kesadaran, mengintegrasikan system-sistem secara keseluruhan agar dapat berfungsi dalam satu kesatuan secara efektif.[4]
    Jung tidak menyusun tahap-tahap perkembangan secara rinci. Perhatian utamanya tertuju pada tujuan-tujuan perkembangannya, khususnya tahap kedua tekanan perkembangannya terletak pada pemenuhan syarat social dan ekonomi, dan tahap ketiga ketika orang mulai membutuhkan nilai spiritual. Menurut Jung terdapat 4 tahap perkembangan :

  1. Usia anak (childhood), dibagi menjadi tiga tahap:

  1. Tahap anarkis (0 – 6 tahun)
    Tahap ini ditandai dengan kesadaran yang kacau dan sporadic atau kadang ada kadang tidak.
  2. Tahap monarkis (6 – 8 tahun)
    Tahap ini ditandai dengan perkembangan ego, dan mulainya pikiran verbal dan logika. Pada tahap ini, anak memandang dirinya secara obyektif, sehingga sering secara tidak sadar mereka menganggap dirinya sebagai orang ketiga.
  3. Tahap dualistic (8 – 12 tahun)
    Tahap ini ditandai dengan pembagian ego menjadi 2, obyektif dan subyektif. Pada tahap ini, kesadaran terus berkembang. Anak kini memandang dirinya sebagai orang pertama, dan menyadari eksistensinya sebagai individu yang terpisah.




  1. Usia pemuda ( Youthand Young adulthood)
    Tahap muda berlangsung mulai dari puberitas sampai usia pertengahan. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya. Tahap ini ditandai oleh meningkatnya kegiatan, matangnya seksual, tumbuh kembangnya kesadaran dan pemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anak-anak sudah hilang. Kesulitan utama yang sering dihadapi masalah kecenderungan untuk hidup seperti anak-anak dan menolak menghadapi masalah kekinian yang disebut prinsip konservatif.
    Kelahiran jiwa terjadi pada awal puberitas, mengikuti terjadinya perubahan-perubahan fisik dan ledakan seksualitas. Tahap ini ditandai oleh perbedaan perlakuan kepada anak-anak menjadi perlakuan kepada orang dewasa dari orang tua mereka. Kepribadian selanjutnya harus dapat memutuskan dan menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial.
  2. Usia pertengahan (middlehood)
    Tahap ini dimulai antara usia 35 atau 40 tahun. Periode ini ditandai dengan aktualisasi potensi  yang sangat bervariasi. Pada tahap usia pertengahan muncul kebutuhan nilai spiritual, yaitu kebutuhan yang selalu menjadi bagian dari jiwa, tetapi pada usia muda dikesampingkan, karena pada usia itu orang lebih tertarik pada nilai materialistic. Usia pertengahan adalah usia realisasi diri.
  3. Usia tua ( oldage )
    Usia tua ditandai dengan tenggelamnya alam sadar ke alam tak dasar. Banyak diantara mereka yang mengalami kesengsaraan karena berorientasi pada masa lalu dan menjalani hidup tanpa tujuan.[5]



BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan
    Carl Gustav Jung, lahir 26 Juli 1875 di desa Kesswil (dekat Basel, Swiss) di pinggir danau Konstanz (Bodensee). Ia seorang anak laki-laki tunggal dari Paul Jung. Seorang pendeta desa dan ibunya bernama Emilie Preswerk Jung. Dia lahir di tengah keluarga besar yang cukup berpendidikan. Jung memandang kepribadian atau spikhe sebagai sistem energi yang setengah tertutup.
    Menurut Jung, kesadaran manusia mengadakan hubungan dengan dunia luar menunjukkan dua sikap utama yaitu introvert dan extrovert. Dikatakan bersikap introvert jika sikap kesadaran seseorang mengarah ke dalam dirinya sendiri.
    Menurut Jung, peristiwa psikis tidak selalu dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat. Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena sulit membedakan mana yang masa lalu dan mana yang masa depan, hal inilah dinamakan prinsip sinkronisitas. Jung memakai prinsip sinkronisitas untuk menjelaskan kata kerja arsetip.
  2. Saran 

Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk di masa yang akan datang agar  makalah ini menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.




DAFTAR PUSTAKA



Aion, Carl Gustav Jung. Researches In To The Phenomenology Of  The Self . Jakarta: PT. Granmedia, 1986.

A, Supratiknya. Teori-teori Psikodinamik. Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Atmaja, Prawira Purwa.  Psikologi Kepribadian dengan Perspektif Baru. Yogyakarta: Arruz Media, 2013.

Sumadi, Suryabrata. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV Rajawali, 2005.

Yusuf, Syamsul LN dan Nurihsan, A. Juntika. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.





[1] Carl Gustav Jung, Aion, Researches In To The Phenomenology Of  The Self  (Jakarta: PT. Granmedia, 1986), hlm. 120.
[2] Supratiknya, A, Teori-teori Psikodinamik (Yogyakarta: kanisius, 1993), hlm. 198.
[3] Prawira Purwa Atmaja, Psikologi Kepribadian dengan Perspektif Baru (Yogyakarta: Arruz Media, 2013), hlm. 213-216.
[4] Yusuf, Syamsu LN dan Nurihsan, A. Juntika . Teori Kepribadian (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007)
[5] Suryabrata Sumadi, Psikologi Kepribadian (Jakarta: CV Rajawali, 2005), hlm. 56-57

Tidak ada komentar:

Posting Komentar