Selasa, 17 April 2018


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Pendidikan sebagaimana pernah dikemukakan oleh R.J. Menges adalah keseluruhan proses dalam rangka membantu manusia menapaki kehidupannya. Dalam konteks yang demikian, pendidikan menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dalam rangka membangun kehidupan manusia baik kehidupan individu maupun sosial yang diharapkan mampu memposisikan manusia dalam kehidupan yang plural. Posisi sentral dan tantangan yang berat sejalan dengan semakin kompleksitasnya roda kehidupan manusia menyongsong era global.
    Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem pendidikan nasional yang tidak dapat dipisahkan dari subsistem lainnya baik di dalam maupun diluar sistem pendidikan. Keberadaan perguruan tinggi dalam keseluruhan kehidupan berbangsa dan bernegara mempunyai peran yang amat besar.
    Perguruan Tinggi Islam sebagai salah satu institusi penyelenggara pendidikan di Indonesia tidak luput dari berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Tantangan tersebut antara lain berupa timbulnya aspirasi dan idealitas masyarakat yang multi-interest dan multi-kompleks, terutama dalam menghadapi dan memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. Rumusan Masalah

  1. Apa saja tantangan yang terdapat pada pendidikan tinggi?
  2. Bagaimana strategi menghadapi dan mengatasi tantangan pendidikan tinggi?







  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui tantangan apa saja yang ada pada pendidikan tinggi.
  2. Untuk mengetahui strategi menghadapi dan mengatasi tantangan pendidikan tinggi.




BAB II

PEMBAHASAN



  1. Tantangan Pendidikan Tinggi
    Sebagai lembaga yang meyelenggarakan pendidikan tinggi, perguruan tinggi jelas harus menyadari dan menyikapi berbagai tantangan serta terus mengembangkan kemampuannya seiring dengan perubahan tuntutan masyarakat dan perkembangan Iptek. Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dewasa ini makin menunjukkan intensitas yang cepat dan kompleks, hal ini jelas akan berpengaruh besar pada penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi. Paling tidak terdapat beberapa tantangan bagi Perguruan Tinggi yang perlu dicermati dan disikapi dengan tepat yaitu:

  1. Makin menguatnya kehidupan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society)
  2. Eskalasi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan variatif baik kedalamannya maupun keluasannya
  3. Meningkatnya tuntutan akan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berbasis riset (research university)
  4. Meningkatnya tuntutan akan hasil pendidikan (output pendidikan) yang bermutu.
  5. Meningkatnya tuntutan akan kiprah lulusan pendidikan (outcome pendidikan) yang relevan
  6. Meningkatnya tuntutan proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dengan standart tertentu.
    Kehidupan masyarakat dan bangsa-bangsa sekarang ini lebih mendasarkan pada pengetahuan atau masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society/knowledge society), masyarakat yang makin penuh persaingan berbasis keunggulan sumberdaya manusia. Semua ini jelas merupakan tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan termasuk Perguruan Tinggi.
    Menurut Andy Hargreaves (2003: XVI), “we live in a knowledge economy, a knowledge society. Knowledge sconomies are stimulated and driven by creativity and ingenuity. Knowledge society school have create these qualities, otherwise their people their nations will be left behind.” Yang artinya adalah tidak mungkin menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan pola fikir masa lalu, tapi diperlukan pola baru yang kreatif inovatif dalam menghadapinya. Kondisi yang demikian sebagai dampak dari perkembangan Iptek yang cepat, sehingga respon biasa sesuai kebiasaan yang ada jelas tidak memadai dan hanya akan menjadikan Perguruan Tinggi tertinggal dalam persaingan tidak hanya secara global tapi juga secara nasional, regional dan lokal sekaligus.[1]

  1. Strategi Mengatasi Tantangan Pendidikan Tinggi

  1. Pengembangan SDM
    Pengetahuan telah menjadi sesuatu yang sangat menentukan, oleh karena itu perolehan dan pemanfaatannya perlu dikelola dengan baik dalam konteks peningkatan kinerja organisasi perguruan tinggi. Langkah ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dalam menghadapi persaingan yang menglobal. Sehingga pengabaiannya akan merupakan suatu bencana bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu diperlukan cara yang dapat mengintegrasikan pengetahuan itu dalam kerangka pengembangan SDM dalam organisasi.

  1. Dalam masyarakat pengetahuan, perguruan tinggi perlu mendesain organisasinya menjadi organisasi yang mampu menumbuhkan kreativitas dan kecerdasan jika tidak ingin ketinggalan.
  2. Proses pembelajaran di perguruan tinggi harus mampu mendidik manusia menjadi orang-orang kreativ, inovatif dan pembelajar.
    Dan ini hanya mungkin dilaksanakan bila organisasi perguruan tinggi itu sendiri menjadi organisasi pembelajar dimana seluruh anggota organisasi mampu meningkatkan kemampuan belajarnya dalam rangka meningkatkan kemampuan organisasi perguruan tinggi dalam menghadapi berbagai perubahan, bahkan perlu terus diupayakan lebih jauh agar organisasi perguruan tinggi dapat melakukan antisipasi terhadap perubahan yang mungkin terjadi. Dan ini berarti pembelajaran adaptif perlu terus dibarengi dengan pembelajaran generatif yang merupakan ciri dari organisasi pembelajar (Learning University).
    Dalam hubungan ini belajar dan pembelajaran menjadi kata kunci dalam peningkatan kapasitas pengetahuan, oleh karenanya menjadikan individu sebagai pembelajar merupakan kondisi yang diperlukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja organisasi perguruan tinggi melalui pengintegrasiannya dengan proses organisasi, manajemen dan kepemimpinan dan penelitian apapun yang ingin menjadi bagian dari lembaga pendidikan tinggi jelas sia-sia jika tidak menempatkan belajar sebagai inti kekuatan dalam suatu perguruan tinggi. Untuk itu perguruan tinggi tinggi perlu melakukan pengembangan dirinya menjadi perguruan tinggi pembelajar (learning university), sebab hanya dalam kondisi yang sedemikian seluruh pemangku kepentingan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dapat benar-benar menjadi manusia pembelajar sebagai ciri penting kehidupan dalam masyarakat berbasis pengetahuan dan perguruan tinggi berbasis riset/penelitian.[2]

  1. Bidang Pendidikan
    Tantangan yang harus diantisipasi oleh pendidikan tinggi melalui perubahan dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Pendidikan tinggi harus dapat memanfaatkan sumber pembelajaran yang tersedia, baik yang ada dikampus atau diluar kampus, termasuk di dalamnya menggunakan produk teknologi.
  2. Tantangan yang semakin berubah diperlukan produk yang siap suai. Oleh karenanya proses pembelajaran harus mengembangankan upaya penalaran, pemecahan masalah secara ilmiah, serta menciptakan proses berpikir, kemampuan mencari, mengolah dan menggunakan informasi, sebagai kegiatan yang selalu melekat pada setiap kegiatan pembelajaran.
  3. Mengorientasikan pada kemampuan menyesuaikan terhadap perubahan, termasuk metode kerja, sistem, efektifitas dan kepekaan.
  4. Meningkatkan kemampuan dalam hal-hal khusus dan secara bersamaan diberikan wawasan umum.
  5. Mengutamakan peran serta mahasiswa.[3]

  1. Peningkatan Mutu
    Tantangan perguruan tinggi Islam dan juga perguruan tinggi lainnya di Indonesia saat ini, antara lain ketiga program yang mendesak untuk dilakukan. Jika ketiga program ini berhasil ditingkatkan, maka akan berpengaruh terhadap keberhasilan bidang lainya. Ketiga program tersebut yaitu:

  1. Peningkatan mutu akademis
    Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu akademis ini pada dasarnya bertumpu pada kemampuan meningkatkan mutu tenaga dosen, mutu proses, belajar mengajar, mutu atmosfer akademis, dan tersedianya prasarana dan sarana yang mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Peningkatan mutu tenaga dosen selain dengan memberikan tugas beasiswa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, juga dengan mendorong mereka melakukan penelitian dan pengembangan bidang keahliannya dengan meneliti, menulis buku, diklat, modul, desain pembelajaran, makalah ilmiah, kesempatan menghadiri dan menyajikan makalah pada seminar, workshop, diskusi dan lainnya baik tingkat lokal, nasional dan internasional. Sementara peningkatan atmosfer akademis dapat dilakukan dengan cara mengubah model pembelajaran dan pengajaran (teaching) kepada pembelajaran (learning) yang menyebabkan dosen dan mahasiswa sama-sama aktif. Selanjutnya penyediaan sarana prasarana dilakukan dengan menambah jumlah koleksi bahan bacaan di perpustakaan. Baik dalam bentuk buku, ensikiopedi, jurnal dalam dan luar negeri, microfilm, CD-ROM, jaringan intranet dan internet, peralatan laboratorium, praktikum keagamaan, komputer, microteaching dan peralatan praktikum lainnya. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan ini selain disertai dengan pemeliharaan yang baik, juga harus disertai dengan penggunaanya secara benar. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan pelatihan dalam mengoprasikan berbagai sarana dan prasarana tersebut.
  2. Peningkatan mutu manajemen pendidikan
    Upaya ini antara lain dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management/TQM) yang pada dasarnya merupakan makna dan standart mutu dalam pendidikan. Prinsip dasar dalam TQM adalah bahwa pelanggan dan kepentingannya harus diutamakan-suatu ide yang mudah dipahami, namun orang yang mengimplementasikannya membutuhkan tingkat komitmen yang tinggi. Dalam sejarahnya TQM pada mulanya merupakan sebuah konsep manajemen yang diperuntukkan bagi kegiatan bisnis yang kemudian diterapkan pada dunia pendidikan. Hal ini dilakukan karena manajemen bisnis ternyata lebih unggul dan terukur dibandingkan dengan manajemen dalam bidang lainnya. Dapat diumpamakan dengan mengelola sebuah restoran. Sebuah restoran yang diminati masyarakat biasanya ditandai oleh letaknya yang strategis dan mudah dijangkau, menu yang tersedia sesuai selera pelanggan, penataan dan penyajiannya apik dan menarik, pelayanannya cepat, ramah dan bersahabat, lingkungannya bersih dan asri, dan harganya terjangkau. Demikian pula dengan pengelolaan pendidikan. Ia harus berada di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau, program studi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat, penataan kampus, letak gedung dan bentuknya menarik, lingkungan yang bersih, tertib, indah, aman dan nyaman, pelayanan tenaga administrasi dan dosennya ramah dan profesional. Untuk mewujudkan manajemen yang demikian itu, maka perlu dilakukan standarisasi terhadap seluruh aspeknya yang selanjutnya mengarah kepada manajemen yang berbasis sistem, dan untuk melaksanakan manajemen yang demikian itu perlu didukung oleh sumber daya manusia yang andal dan tim kerja yang kompak. Keadaan ini selanjutnya diikuti dengan pengawasan dan supervisi yang terus-menerus, peningkatan sumber daya manusia dan perbaikan sarana prasarana yang berkesinambungan, dan adanya penciptaan budaya institusi dan corporate culture. Berbagai keluhan, kritik dan saran yang disampaikan baik oleh kalangan dosen, karyawan, mahasiswa, orangtua mahasiswa, dan lainnya jangan dilihat sebagai sebuah ancaman, melainkan sebuah masukan untuk melakukan perbaikan, peningkatan dan pengembangan. Untuk itu lembaga pendidikan, selain dapat menampung saran dan masukan melalui dialog atau pertemuan, dapat pula dengan membuat kotak saran, dan sebagainya. Dengan cara demikian, maka tujuan utama dan TQM yaitu memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan pada seluruh pelanggan dapat diwujudkan.
  3. Peningkatan keuangan
    Upaya ini antara lain dapat dilakukan melalui konsep interpreneur university, yaitu sebuah universitas atau perguruan tinggi yang memiliki etos kerja atau semangat untuk menggali dan mengembangkan berbagai peluang usaha yang dapat meningkatkan jumlah pemasukan (in-come) guna membiayai kegiatan perguruan tinggi.[4]




  1. Hasil Wawancara
    Menurut Bapak Nor Hasan, M. Ag. Selaku WAKA I di STAIN Pamekasan menjelaskan bahwa secara umum tantangan pendidikan tinggi itu ada beberapa tantangan yang berkaitan dengan masyarakat sekarang. 1) menguatnya kehidupan masyarakat yang berbasis pada knowledge karena perguruan tinggi merupakan sarangnya ilmu untuk mampu berkiprah pada masyarakat dan untuk saat ini mayoritas masyarakat mulai berpengetahuan (based knowledge), 2) adanya eskalasi perkembangan ilmu yang lebih cepat artinya mulai dari proses input dan proses output yang akan mengarah pada bagaimana terciptanya suatu masyarakat yang ideal dalam standart atau yang biasa disebut knowledge based society, 3) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dan cepat. Dimana perguruan tinggi harus mampu menadah artinya hasil pendidikan seperti apa yang telah kita hasilkan sehingga produk perguruan tinggi tidak lagi menjadi pertanyaan masyarakat, termasuk alumninya bagaimana sebarannya relevan ataukah tidak relevan dengan kehidupan masyarakat. Termasuk juga penyelenggaraan perguruan tinggi yang pada saat ini dituntut dengan standart-standart tertentu yaitu Standart Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) yang harus dipenuhi. Beliau juga mengatakan bahwa yang terpenting ialah tuntutan bagaimana perguruan tinggi berbasis riset (penelitian) karena ini juga termasuk pada Standart Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) artinya perguruan tinggi itu harus benar-benar menjadi organisasi yang mampu mengelola dan memproduk ilmu pengetahuan hal ini juga berkaitan dengan knowledge society. Bapak Nor Hasan menegaskan bahwasannya Perguruan tinggi harus secara profesional mengarah pada tuntutan masyarakat, paling tidak terletak pada mutu lulusan. Menurutnya di mutu lulusan jika di gambarkan pada STAIN Pamekasan ada istilah keinginan yaitu visi dan misi. Visi di STAIN Pamekasan yakni religius, kompeten dan kompetitif. Religius itu memiliki kemampuan mendalam tentang emosional di bidang akhlak spiritual yang tinggi. Dan yang membedakan ke khas san STAIN dengan universitas lainnya yaitu religius. Sehingga nanti semua ilmu yang sudah diajarkan akan mengarah pada dasar religius ini. Kompeten maksudnya bagaimana lulusan STAIN Pamekasan ini mempunyai kompetensi yang tinggi dan mempunyai ilmu sehingga dapat menghadapi tuntutan global. Selanjutnya kompetitif yakni mampu berdaya saing artinya mahasiswa tidak hanya berkompeten di bidangnya saja yang di kejar tetapi harus ada potensi lain,  dan keterampilan lain yang akan diberikan maupun dibekali kepada mahasiswa. Seperti enterpreneurship, nilai-nilai kewirausahaan dan sebagainya.
    Indikator penyebab tantangan pendidikan tinggi menurut Bapak Nor Hasan jika berkaitan dengan mutu lulusan maka indikatornya adalah mahasiswa lulusan mampu berkiprah di masyarakat kemudian juga mampu berkreatifitas. Dan yang terpenting pada saat ini yaitu mengenai kecepatan IPTEK itu juga menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, di perguruan tinggi bukan hanya pada penanaman knowledge (pengetahuan) saja tetapi juga pada kreatifitas –kreatifitasnya.
    Mengenai tantangan yang akan dihadapi dan bagaimana cara mengahadapinya beliau menyampaikan bahwa ada beberapa tantangan yaitu 1) tentang society knowledge (menguatnya kehidupan masyarakat pada pengetahuan), 2) eskalasi pengetahuan yang begitu cepat, 3) IPTEK yang begitu pesat, 4) tuntutan masyarakat mengenai outcome yaitu lulusan yang bermutu, 5) proses dalam penyelenggaraan perguruan tinggi berdasarkan standart-standart tertentu, 6) perguruan tinggi berbasis riset. Solusinya ialah pertama, ketika tantangan masyarakat berbasis knowledge maka perguruan tinggi harus benar-benar menjadi organisasi yang mampu memproduk dan menghasilkan mahasiswa maupun alumni yang memiliki pengetahuan yang luas.  Kedua, ada tuntutan outcome yang relevan maka sebagai organisasi pengetahuan mulai dari awal, penataan, kurikulum dan macam-macamnya akan senantiasa terus disesuaikan dengan realitas. Seperti halnya jika ada perubahan kurikulum maka harus sesuai dengan realitas perubahan kurikulum. Seperti contoh, mahasiswa MPI tidak cukup hanya memiliki kemampuan dibidang MPI tetapi juga ditopang oleh kemampuan lain sehingga ia memiliki daya kemampuan berkompetisi dengan masyarakat dan dengan sarjana lainnya. Mengenai penataan maka tidak bisa perguruan tinggi itu akan menghasilkan outcome tanpa adanya pengelolaan yang terbuka dan relevan dengan realitas.
    Mengenai kendala tantangan yang ada pada pendidikan tinggi menurut beliau semua perguruan tinggi khususnya STAIN Pamekasan sendiri pastinya akan mengalami kendala baik itu dari kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), kemampuan sumber dana, dan fasilitas. Beliau memaparkan bahwa kendala tersebut terjadi bukan karena tidak berdayanya suatu perguruan tinggi akan tetapi kendala tersebut terjadi karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada di perguruan tinggi masing-masing termasuk juga di STAIN Pamekasan.
    Tantangan pendidikan tinggi yang dipaparkan oleh Bapak Dr. H. Zainuddin Syarif, M.Ag. secara umum pendidikan tinggi maupun lembaga pendidikan harus memenuhi komponen-komponen atau elemen-elemen dari pendidikan meliputi tujuan, kurikulum atau materi, dosen, mahasiswa, sarana dan lingkungan. Saat ini pola manajemen perguruan tinggi berkaitan dengan perubahan status dari STAIN ke IAIN bahkan IAIN ke universitas menuju ke World Club University yang merupakan kompetisi kita atau tantangan kita yang tidak hanya kompetisi pada regional Kabupaten Pamekasan kemudian UNIRA tetapi dalam tingkat global. Meskipun demikian kita harus tau kemampuan kita berkaitan dengan visi dan misi perguruan tinggi khususnya STAIN Pamekasan. Visi STAIN Pamekasan yaitu menciptakan mahasiswa yang religius, kompetitif dan kompetisi. Mahasiswa harus diarahkan sesuai dengan visi tersebut yang mempunyai nilai mandiri, religius dan kompetitif. Kompetitif dalam arti memiliki daya saing. Religius yang berarti perguruan tinggi menciptakan mahasiswa yang beragama tapi mempunyai keahlian dan kompeten dalam bidangnya. Dilihat dari segi kompetisi kampus kita (STAIN) itu cukup baik terbukti STAIN terbanyak mahasiswanya bahkan dengan IAIN pun masih bisa bersaing. Hasil pertemuan saya dengan beberapa kepala sekolah dan guru di SMA Pamekasan, mereka merasa bangga jika siswa-siswanya bisa terakomodir dan lulus di STAIN. Begitu juga sebaliknya, mereka merasa kecewa jika siswanya tidak lulus di STAIN. Hal ini berarti kepala sekolah dan guru di SMA Pamekasan sangat mendukung siswanya untuk melanjutkan pendidikan di STAIN Pamekasan.
    Globalisasi menjadi tantangan perguruan tinggi hal ini  dibenarkan oleh Bapak Zainuddin tetapi sarana harus imbang dengan humannya, kadang sarana memadai tapi pola hidup kita tidak munggunakan pola kehidupan standart nasional. Misalnya perguruan tinggi yang berbasis ekogreen artinya kampus yang indah bangunan berlantai tinggi dan konsepnya ramah lingkungan, tidak ada polusi tidak ada sampah berserakan dengan lingkungan yang hijau sehingga secara psikologis membentuk karakter mahasiswanya. Tantangan kita adalah jumlah mahasiswa yang masuk berbandingan dengan jumlah mahasiswa yang keluar. Hal ini harus dipenuhi terlebih dahulu setelah itu konsep dalam membangun kampus yang ramah lingkungan dan gedung bertingkat menjadi prioritas yang selanjutnya.
     Tantangan perguruan tinggi khususnya bidang MPI maka harus disesuaikan dibidangnya yaitu manajemen pendidikan yang profil kelulusannya mencetak lulusan tenaga pendidikan di sekolah, madrasah dan di perguruan tinggi atau akademik. Selain menjadi tenaga kependidikan, lulusan MPI bisa menjadi pegawai, kepala sekolah. Profil kelulusan itu dipersiapkan dengan kemampuan di bidang administrasi dan manajemen, maka pola proses pendidikan dari awal sudah dipersiapkan termasuk sarana, kurikulum dan dosennya. Selain itu mahasiswa lulusan MPI sudah dipersiapkan menjadi manajer yang mampu memanage sebuah lembaga yang berbasis ekogreen yang menghasilkan lulusan yang ramah, psikologinya tidak terganggu.
    Dampak adanya tantangan perguruan tinggi bagi lulusan dan bagi perguruan tinggi itu sendiri. Jika tidak memenuhi tantangan maka dapat berpengaruh langsung pada output atau lulusan mahasiswa dari perguruan tinggi itu sendiri. Kemampuan mahasiswa terbatas pada hal-hal tertentu. Misalnya, secara psikologi mahasiswa hanya lulus dengan disiplin ilmu tertentu tapi pada wawasan lainnya lemah. Pemenuhan persyaratan berpengaruh pada kurikulum dan tujuan pendidikan bisa terselenggara dengan baik. Jika terpenuhi dengan baik maka yang diharapkan mahasiswa tidak hanya mempunyai disiplin keilmuan berdasarkan prodi yang dipilih tetapi mahasiswa juga mempunyai keterampilan yang dilengkapi dengan wawasan keilmuan yang ramah dan berbudaya.
    Upaya atau strategi dalam menghadapi tantangan perguruan tinggi. Yaitu strategi yang membenahi pada komponen-komponen atau elemen-elemen dari pendidikan yang berkaitan dengan tujuan, kurikulum atau materi, dosen, mahasiswa, sarana dan lingkungan yang sesuai dengan visi dan misi. Mencetak mahasiswa yang hospitality dengan kedisiplinan moral.
    Mengatasi tantangan perguruan tinggi membutuhkan peran semua lapisan yang ada pada perguruan tinggi tersebut baik mahasiswa, dosen, dekan, rektor dan seluruh staff yang ada. Mahasiswa hanya menjadi objek tidak menjadi subjek, setidaknya ada perwakilan mahasiswa yang memformat atau ikut mendesain ulang seperti apa kampus yang kita inginkan sehingga tercapai kampus yang ideal.




BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Terdapat beberapa tantangan bagi Perguruan Tinggi yang perlu dicermati dan disikapi dengan tepat yaitu, 1) Makin menguatnya kehidupan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society), 2) Eskalasi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan variatif baik kedalamannya maupun keluasannya, 3) Meningkatnya tuntutan akan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berbasis riset (research university), 4) Meningkatnya tuntutan akan hasil pendidikan (output pendidikan) yang bermutu, 5) Meningkatnya tuntutan akan kiprah lulusan pendidikan (outcome pendidikan) yang relevan, dan 6) Meningkatnya tuntutan proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dengan standart tertentu.
    Cara menghadapi dan mengatasi tantangan pada pendidikan tinggi dilihat dari tiga aspek yaitu, (1) Pengembangan SDM dalam organisai karena masyarakat pada saat ini berbasis pengetahuan, sehingga perguruan tinggi perlu mendesain organisasinya menjadi organisasi yang mampu menumbuhkan kreativitas dan kecerdasan jika tidak ingin ketinggalan dan proses pembelajaran di perguruan tinggi harus mampu mendidik manusia menjadi orang-orang kreativ, inovatif dan pembelajar. (2) Dalam bidang pendidikan Tantangan yang harus diantisipasi oleh pendidikan tinggi melalui perubahan dalam pembelajaran, yaitu, a) Pendidikan tinggi harus dapat memanfaatkan sumber pembelajaran yang tersedia, baik yang ada dikampus atau diluar kampus, termasuk di dalamnya menggunakan produk teknologi. b) Tantangan yang semakin berubah diperlukan produk yang siap suai. Oleh karenanya proses pembelajaran harus mengembangankan upaya penalaran, pemecahan masalah secara ilmiah, serta menciptakan proses berpikir, kemampuan mencari, mengolah dan menggunakan informasi, sebagai kegiatan yang selalu melekat pada setiap kegiatan pembelajaran. c) Mengorientasikan pada kemampuan menyesuaikan terhadap perubahan, termasuk metode kerja, sistem, efektifitas dan kepekaan. d) Meningkatkan kemampuan dalam hal-hal khusus dan secara bersamaan diberikan wawasan umum. e) Mengutamakan peran serta mahasiswa. (3) Dalam peningkatan mutu yaitu ada tiga mutu, a) mutu akademis strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu akademis ini pada dasarnya bertumpu pada kemampuan meningkatkan mutu tenaga dosen, mutu proses, belajar mengajar, mutu atmosfer akademis, dan tersedianya prasarana dan sarana yang mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. b) peningkatan mutu manajemen pendidikan, upaya ini antara lain dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management/TQM) yang pada dasarnya merupakan makna dan standart mutu dalam pendidikan. Prinsip dasar dalam TQM adalah bahwa pelanggan dan kepentingannya harus diutamakan-suatu ide yang mudah dipahami, namun orang yang mengimplementasikannya membutuhkan tingkat komitmen yang tinggi. Dalam sejarahnya TQM pada mulanya merupakan sebuah konsep manajemen yang diperuntukkan bagi kegiatan bisnis yang kemudian diterapkan pada dunia pendidikan. c) peningkatan keunangan, upaya ini antara lain dapat dilakukan melalui konsep interpreneur university, yaitu sebuah universitas atau perguruan tinggi yang memiliki etos kerja atau semangat untuk menggali dan mengembangkan berbagai peluang usaha yang dapat meningkatkan jumlah pemasukan (in-come) guna membiayai kegiatan perguruan tinggi.

  1. Saran
    Dengan berbagai uraian diatas, tentunya tidak lepas dari berbagai kekurangan baik dari segi isi materi, teknik penulisan dan sebagainya. Untuk itu sangat diharapkan kritik dan saran yang membangun dalam perbaikan makalah selanjutnya.




DAFTAR PUSTAKA



Nata, Abuddin. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group, 2003.

Sudiyono. Manajemen Pendidikan Tinggi. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004.

Uhar Suharsaputra, ”Perguruan Tinggi dan Tantangannya”, diakses dari https://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pend-tinggi/perguruan-tinggi-dan-tantangannya/ pada tanggal 23 November 2017 pukul 19.44.



[1] Uhar Suharsaputra, ”Perguruan Tinggi dan Tantangannya”, diakses dari https://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pend-tinggi/perguruan-tinggi-dan-tantangannya/ pada tanggal 23 November 2017 pukul 19.44
[2] Ibid.
[3] Sudiyono, Manajemen Pendidikan Tinggi (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 78.
[4] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan (Jakarta: Prenada Media Group, 2003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar