Selasa, 17 April 2018

EVALUASI KURIKULUM


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu[1]. Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan.[2] Evaluasi juga merupakan bagian dari manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Sedangkan Kurikulum adalah seperangkat perencanaan yang akan dilakukan oleh peserta didik baik di dalam maupun di luar kelas. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan maupun hasilnya.
    Setiap program, kegiatan-kegiatan atau sesuatu yang sudah direncanakan selalu diakhiri dengan yang namanya evaluasi. Evaluasi disini dimaksudkan untuk melihat kembali apakah suatu program atau kegiatannya telah sesuai dengan perencanaan atau belum sesuai. Maka dari kegiatan evaluasi di sini akan diketahui hal-hal yang telah atau akan dicapai sudahkah memenuhi kriteria yang ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut kemudian diambil keputusan apakah program tersebut akan dilanjutkan ataukah direvisi atau bahkan diganti seluruhnya.
  2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian, tujuan, dan fungsi dari evaluasi kurikulum?
  2. Bagaimana proses dari evaluasi kurikulum?
  3. Bagaimana peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan?
  4. Apa sajakah model-model evaluasi kurikulum?


  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengertian, tujuan dan fungsi dari evaluasi kurikulum.
  2. Untuk mengetahui proses dari evaluasi kurikulum.
  3. Untuk mengetahui peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan.
  4. Untuk mengetahui model-model evaluasi kurikulum.




BAB II

PEMBAHASAN



  1. Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Evaluasi Kurikulum

  1. Pengertian Evaluasi Kurikulum
    Kurikulum merupakan bagian dari pendidikan dalam lingkup yang luas. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan sedangkan evaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti juga mengevaluasi kurikulumnya. Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum merupakan evaluasi dari pendidikan, yang memusatkan perhatiannya pada program-program pada peserta didik. Hasil evaluasi kurikulum bermanfaat bagi penentu kebijakan dalam menentukan keputusan untuk melakukan perbaikan ataupun perubahan kurikulum.[3]
    Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evalusioner. Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahahui proses dan hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan.[4]
    Menurut Micheal Scriven dalam buku Nurgiantoro, mengemukakan bahwa proses penilaian terdiri dari tiga komponen, yaitu pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Ia mengartikan evaluasi sebagai “proses memperoleh informasi, mempergunakannya sebagai bahan pembuatan pertimbangan dan selanjutnya sebagai dasar pembuatan keputusan”. Tyler dalam buku Hamalik, berpendapat bahwa evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus diberlakukan dalam empat tahap yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi terhadap tujuan pembelajaran
  2. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum atau proses pembelajaran yang meliputi metode, media dan evaluasi pembelajaran.
  3. Evaluasi terhadap efektivitas, baik efektivitas waktu, tenaga dan biaya.
  4. Evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai.[5]

    Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu pengembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian, serta fasilitas pendidikan lainnya.[6]
    Evaluasi adalah langkah untuk memnentukan keberhasilan suatu kurikulum. Sekaligus juga menemukan kelemahan yang ada pada proses tersebut untuk diperbaiki. Evaluasi kurikulum dilakukan pada semua komponen kurikulum yaitu tujuan, materi, metode, dan evaluasi itu sendiri. Komponen-komponen ini mewarnai hasil evaluasi yang dilakukan, yaitu tentang validitas (kesahihan), realibitas (keterandalan), signifikansi (keterpercayaan), dan obyektifitas. Oleh karena itu evaluasi merupakan komponen yang sangat penting untuk menilai sejauh mana dan seberapa baik kurikulum dan proses pembelajaran berjalan secara optimal atau tidak. Dengan evaluasi, dapat diketahui apakah sasaran yang ingin dituju dapat dicapai atau tidak, sehingga akan diperoleh umpan balik tentang kurikulum atau pembelajaran. Berdasarkan umpan balik tersebut dilakukan perbaikan-perbaikan pada aspek-aspek yang kurang tepat dan pengembangan pada aspek-aspek yang sudah baik.[7]
    Biasanya suatu kurikulum yang akan dilaksanakan/diimplementasikan terlebih dulu diujicobakan dalam lingkungan terbatas (pilot study), sebelum akhirnya diputuskan untuk didesiminasikan kesemua lembaga pendidikan. Berbagai upaya perlu dilakukan selama fase pengembangan kurikulum dilakukan, termasuk kedalamnya adalah evaluasi dan revisi. Evaluasi yang disignifikan dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya suatu pengembangan kurikulum secara efektif dan bermakna. Dari hasil-hasil evaluasi inilah pihak pengembang dapat melakukan revisi dan penyesuaian sebelum kurikulum tersebut disebar luaskan.[8]
    Dengan demikian, pengertian evaluasi kurikulum adalah suatu tindakan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu kurikulum, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk akuntabilitas pengembang kurikulum dalam rangka menentukan keefektifan kurikulum.

  1. Tujuan Evaluasi Kurikulum
    Dalam kegiatan evaluasi, guru harus memahami terlebih dahulu tentang tujuan evaluasi. Bila tidak, maka guru akan mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan evaluasi. Tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem kurikulum, baik yang menyangkut tentang tujuan, isi/materi, strategi, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri.[9]
    Evaluasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan. Setiap bidang atau kegiatan mempunyai tujuan evaluasi yang berbeda. Dalam kegiatan bimbingan misalnya, tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakteristik peserta didik sehingga dapat diberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dalam kegiatan supervisi, tujuan evaluasi adalah untuk menentukan keadaan suatu situasi pendidikan atau pembelajaran sehingga dapat diusahakan langkah-langkah perbaikan intuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dalam kegiatan seleksi, tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai dari test untuk jenis pekerjaan atau jabatan tertentu.[10]
    Dalam sistem terobosan, tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk mengadakan perbandingan. Program yang ada dibandingkan dengan seperangkat tujuan baru yang didukung oleh kelompok orang tua, atau program yang ada diperbandingkan dengan program lain yang dipertimbangkan untuk pengadopsian disekolah. Ketika beberapa perbandingan diadakan, kebutuhan untuk menspesifikasikan dasar perbandingan merupakan hal yang terpenting. Mungkin perlu untuk memulainya dengan perbandingan orientasi saat itu dan praktik yang ditawarkan, dengan tujuan untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran, hasil, dan metodelogi diperbandingkan.[11]
    Menurut Stufflebeam, dkk. Tujuan utama evaluasi kurikulum adalah memberi informasi terhadap pembuat keputusan, atau untuk penggunaannya dalam proses menggambarkan hasil, dan memberikan informasi yang berguna untuk membuat pertimbangan berbagai alternatif keputusan.
    Jadi, pada hakikatnya tujuan evaluasi mencakup dua hal. Pertama, evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas program. Kedua, evaluasi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam implementasi kurikulum atau pembelajaran.[12]
  2. Fungsi Evaluasi Kurikulum
    Menurut Scriven, fungsi evaluasi dapat dilihat dari jenis evaluasi itu sendiri, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif berfungsi untuk perbaikan dan pengembangan bagian tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum yang sedang dikembangkan, sedanglan fungsi sumatif dihubungkan dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara keseluruhan.fungsi ini baru dapat dilaksanakan apabila pengembangan suatu kurikulum telah dianggap selesai. Sementara itu, Stufflebeam membedakan fungsi evaluasi menjadi dua, (a) proactive evaluation, yaitu untuk melayani pemegang keputusan, dan (b) retroactive evaluation, yaitu untuk keperluan pertanggungjawaban. Secara umum fungsi evaluasi kurikulum adalah (a) untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum yang diarahkan pada semua komponen kurikulum secara keseluruhan, (b) untuk memberikan informasi bagi pembuat keputusan, (c) untuk pertanggungjawabkan, laporan, seleksi dan penempatan, dan (d) untuk akreditasi, yaitu menilai kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.[13]
    Menurut Zainal Arifin, fungsi evaluasi dapat dilihat dari kebutuhan peserta didik dan guru, yaitu:

  1. Secara psikologis, peserta didik selalu butuh untuk mengetahui hingga mana kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Mereka masih mempunyai sikap dan moral yang heteronom, membutuhkan pendapat orang-orang dewasa sebagai pedoman baginya untuk mengadakan orientasi pada situasi tertentu. Pada umumnya mereka tidak berpegang pada pedoman yang berasal dari dalam dirinya, melainkan mengacu kepada norma-norma yang berasal dari luar dirinya. Dalam kegiatan kurikulum, peserta didik perlu mengetahui tingkat ketercapaian sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan.
  2. Secara sosiologis, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti bahwa peserta didik dapat berkomunikasi dan beradaptasi terhadap seluruh lapisan masyarkat dengan segala karakteristiknya, bahkan peserta didik diharapkan dapat membina dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam masyarakat. Hal ini penting karena mampu-tidaknya peserta didik terjun ke masyarakat akan memberikan ukuran tersendiri terhadap instusi pendidikan yang bersangkutan.
  3. Secara didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing serta membantu guru dalam usaha memperbaiki kurikulum.
  4. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui status peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang atau kurang pandai. Hal ini berhubungan dengan sikap dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama dan utama di lingkungan keluarga. Orang tua perlu mengetahui kemajuan anak-anaknya untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
  5. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya. Jika peserta didik sudah dianggap siap (fisik dan non-fisik), maka program pendidikan dapat dilaksanakan. Sebaliknya, jika peserta didik belum siap, maka hendaknya program pendidikan tersebut jangan dulu diberikan, karena akan mengakibatkan hasil yang kurang memuaskan.[14]
  6. Evaluasi berfungsi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas. Melalui evaluasi, guru dapat mengetahui potensi peserta didik, sehingga dapat diberikan bimbingan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Begitu juga tentang kenaikan kelas, jika peserta didik belum menguasai kompetensi yang ditentukan, maka peserta didik tersebut jangan dinaikkan ke kelas berikutnya atau yang lebih tinggi. Kegagalan ini merupakan hasil keputusan evaluasi.
  7. Secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan peserta didik itu sendiri. Hasil evaluasi dapat memberikan gambaran secara umum tentang semua hasil usaha yang dilakukan oleh instusi pendidikan.[15]


  1. Proses Evaluasi Kurikulum
    Proses evaluasi kurikulum berlangsung secara berkesinambungan dan merupakan keterpaduan dari semua dimensi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Proses tersebut berlangsung secara bertahap dan berjenjang yaitu:

  1. Proses analisis kebutuhan dan kelayakan sebagai langkah awal untuk mendesain kurikulum.
  2. Proses perencanaan dan pengembangan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan suatu lembaga pendidikan.
  3. Proses implementasi/pelaksanaan kurikulum yang berlangsung dalam suatu proses pembelajaran.
  4. Proses evaluasi kurikulum untuk mengetahui tentang tingkat keberhasilan kurikulum.
  5. Proses perbaikan kurikulum berdasarkan hasil evaluasi terhadap keterlaksanaan dan kelemahannya setelah dilakukan penilaian kurikulum.
  6. Proses penelitian evaluasi kurikulum, dalam hal ini erat kaitannya dengan tahap-tahap proses lainnya, tetapi lebih mengarah pada pengembangan kurikulum sebagai cabang ilmu dan teknologi.
    Evaluasi kurikulum mencakup keenam komponen tersebut. Dengan demikian, evaluasi kurikulum meliputi: komponen-komponen analisis kebutuhan dan studi kelayakan, perencaan dan pengembangan, proses pembelajaran, revisi kurikulum, dan research kurikulum.[16]
    Berikut cakupan proses evaluasi kurikulum:

  1. Judgement (menetapkan suatu nilai)

  • Subjektif
  • Objektif (berdasar kriteria yang disepakati)

  1. Kriteria

  • Internal (program)
  • Eksternal (luar program)

  1. Objek penilaian

  • Luas (program pendidikan)
  • Terbatas (program belajar-mengajar)[17]


  1. Peran Evaluasi Kurikulum dalam Pendidikan
    Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan dengan tiga hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Konsep sebagai moral judgement
    Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu nilai berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua pengertian yaitu:

  1. Evaluasi berisi satu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai.
  2. Evaluasi berisi suatu perangkat kriteria praktis yang berdasarkan kriteria, dengan kriteria tersebut suatu hasil dapat dinilai.


  1. Evaluasi dan penentuan keputusan
    Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inpsektur, pengembangan kurikulum dan sebagainya.
  2. Evaluasi dan konsensus nilai
    Kesatuan penilaian dapat dicapai melalui suatu konsensus. Konsensus tersebut berupakerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar behavorial, analisis statistik dari prestasi tes dan post tes. Ada dua kriteria dalam penilaian kurikulum:

  1. Kriteria berdasarkan tujuan yang telah ditentukan atau sering disebut kriteria patokan.
  2. Kriteria berdasarkan norma-norma atau standar yang ingin dicapai sebagaimana adanya.[18]


  1. Model-model Evaluasi Kurikulum
    Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum  juga merupakan suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi.
    Macam-macam model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang berorentasi tujuan berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum. Model atau pendekatan antropologis dalam evaluasi ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam lembaga sosial. Dengan demikian, sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum juga merupakan teori dari evaluasi kurikulum. [19]
    Ada beberapa model dalam evaluasi kurikulum, yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi Kurikulum Model Penelitian (Research Evaluation Model)
    Model evaluasi kurikulum yang menggunakan penelitian berdasarkan atas teori dan metode tes psikologi serta eksperimen lapangan. Salah satu pendekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lapangan adalah comparative approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan antara dua macam kelompok anak.
    Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi dan serta eksperimen lapangan. Tes psikologi atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditunjukkan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes bawaan yang mengukur perilaku skolastik.
    Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administrative, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji. Ketiga, sukar untuk mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontorol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan. [20]
  2. Model Evaluasi Kurikulum yang Berorientasi pada Tujuan (Goal/Objective Oriented Evaluation)
    Dalam model ini, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain, tetapi diukur dengan seperangkat tujuan atau kompetensi tertentu. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan atau kompetensi tersebut.
    Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model obyektif, yaitu sebagai berikut:

  1. Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum.
  2. Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa.
  3. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut.
  4. Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
    Dasar-dasar teori Tvlor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan kurikulum, dan mencapai puncaknya dalam sistem belajar berprogram dan sistem intruksional. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI. (individually prescribed instruction).
    Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang mengikuti tujuh unsur yaitu:

  1. Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit.
  2. Suatu prosedur program testing.
  3. Pedoman prosedur penulisan.
  4. Materi dan alat-alat pelajaran.
  5. Kegiatan guru dalam kelas.
  6. Kegiatan murid dalam kelas.
  7. Prosedur pengelolaan kelas.

  1. Model Evaluasi Kurikulum yang Lepas dari Tujuan (Goal Free Evaluation Model)
    Model ini dikembangkan oleh Micheal scriven, yang cara kerjanya berlawanan dengan model evaluasi yang berorintasi pada tujuan. Menurut pendapat Scriven, seorang evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya. Cara dengan memperhatikan dan mengidentifikasi penampilan yang terjadi, baik hal-hal yang positif yang diharapkan maupun hal-hal negatif yang tidak diinginkan.[21]
  2. Model Campuran Multivariasi
    Model campuran multivariasi adalah strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari beberapa model evaluasi kurikulum. Model ini memungkinkan perbandingan lebih dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur berdasarkan kriteria khusus dari masing-masing kurikulum.
    Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini yaitu:

  1. Mencari dan menentukan sekolah yang berminat untuk dievaluasi atau diteliti.
  2. Pelaksanaan program, bila tidak ada percampuran sekolah, maka tekanannya pada partisipasi yang optimal.
  3. Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpanya, dengan menggunakan metode global dan metode unsur, dan dapat disiapkan tes tambahan.
  4. Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan komputer.
  5.  Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari beberapa variable yang berbeda.
    Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multi variasi ini adalah:

  1. Diharapkan memberikan tes statistic yang signifikan.
  2. Terlalu banyaknya variable yang perlu dihitung pada suatu saat.
  3. Meskipun model ini mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah perbandingan.[22]



  1. Model Evaluation Program for Innovate Curriculumbs (EPIC)
    Model ini menggambarkan keseluruhan program evaluasi kurikulum dalam sebuah kubus. Kubus ini memiliki tiga bidang, bidang pertama adalah perilaku (Behavior) yang meliputi perilaku cognitive, affective, psychomotor. Bidang kedua adalah pembelajaran (intruction), yang meliputi organisasi, materi, metode fasilitas atau sarana dan pendanaan. Bidang ketiga adalah kelembagaan (instution) yang meliputi guru, murid, administrasi, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.
  2. Model CIPP (Contex, Input, Process, and Product)
    Model ini dikembangkan oleh Stuffle Beam dkk di Ohio State University AS dan model ini paling banyak diikuti oleh para evaluator. Model ini memandang bahwa kurikulum yang dievaluasi adalah sebuah sistem, maka apabila evaluator telah menentukan untuk menggunakan model CIPP, maka evaluator harus menganalisis kurikulum tersebut berdasarkan komponen-komponen model CIPP.
    Model ini mengemukakan bahwa untuk melakukan penilaian terhadap program pendidikan diperlakukan empat macam jenis yaitu:

  1. Penilaian konteks (context) yang berkaitan dengan tujuan.
  2. Penilaian proses (process) yang membimbing langkah operasional dan dalam pembuatan keputusan.
  3. Penilaian keluaran yang memberikan data sebagai tambahan pembuatan keputusan (product)[23]

  1. Model Pendekatan Proses
    Evaluasi kurikulum model pendekatan proses ini tumbuh dan berkembang secara kualitatif, yang menjadi pendekatan yang penting. Karakteristik model ini adalah:

  1. Kriteria yang digunakan untuk evaluasi tidak dikembangkan sebelum pelaksanaan (evaluator) berada dilapangan.
  2. Sangat peduli dengan masalah yang dihadapi oleh para pelaksana kurikulum.
  3. Evaluasi yang dilakukan terhadap kurikulum adalah merupakan satu-kesatuan yang utuh, tidak terpecah belah dalam bagian-bagian tertentu.
    Adapun prosedur evaluasi kurikulum model pendekatan proses adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data dari berbagai sumber, misalnya kepala sekolah atau madrasah, guru dan tenaga kependidikan.
  2. Menganalisis data setelah data terkumpul dari berbagai sumber.
  3. Pengambilan keputusan dan berpihak pada kelebihn dan kekurangan suatu kurikulum, sehingga akan melahirkan pemikiran alternatif untuk perbaikan atau inovasi atau kurikulum.[24]

  1. Model Evaluasi Kuantitatif
    Model kuantitatif ditandai oleh ciri yang menonjol dalam penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigma positivisme.
    Diantara model evaluasi yang masuk pada kategori kuantitatif adalah model yang dikembangkan oleh Tyler, dimana evaluasi yang dikemukakan dibangun atas dua dasar, yaitu: evaluasi yang ditunjukkan kepada tingkah laku peserta didik sebelum pelakasanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulun, sehingga evaluasi di fokuskan pada dimensi hasil belajar.
  2. Model Evaluasi Kualitatif
    Ciri khas dari model evaluasi kualitatif adalah selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itu kurikulum dalam dimensi kegiatan atau proes lebih mendapatkan perhatian dibandingkan dimensi lain suatu kurikulum walaupun harus dikatakan bahwa perhatian utama terhadap proses dimensi lain.
    Model utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Demikian kuatnya posisi studi kasus sebagai model utama dilingkungan evaluasi kualitatif sehingga setiap orang berbicara tentang model evaluasi kualitatif maka nama studi kasus segera muncul dalam kontak memorinya.[25]





BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Pengertian evaluasi kurikulum adalah suatu tindakan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu kurikulum, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk akuntabilitas pengembang kurikulum dalam rangka menentukan keefektifan kurikulum.
    Tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakteristik peserta didik sehingga dapat diberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya. Dan pada hakikatnya tujuan evaluasi mencakup dua hal. Pertama, evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas program. Kedua, evaluasi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam implementasi kurikulum atau pembelajaran.
    Secara umum fungsi evaluasi kurikulum adalah (a) untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum yang diarahkan pada semua komponen kurikulum secara keseluruhan, (b) untuk memberikan informasi bagi pembuat keputusan, (c) untuk pertanggungjawabkan, laporan, seleksi dan penempatan, dan (d) untuk akreditasi, yaitu menilai kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
  2. Proses evaluasi kurikulum berlangsung secara bertahap dan berjenjang yaitu:

    1. Proses analisis kebutuhan dan kelayakan sebagai langkah awal untuk mendesain kurikulum.
    2. Proses perencanaan dan pengembangan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan suatu lembaga pendidikan.
    3. Proses implementasi/pelaksanaan kurikulum yang berlangsung dalam suatu proses pembelajaran.
    4. Proses evaluasi kurikulum untuk mengetahui tentang tingkat keberhasilan kurikulum.
    5. Proses perbaikan kurikulum berdasarkan hasil evaluasi terhadap keterlaksanaan dan kelemahannya setelah dilakukan penilaian kurikulum.
    6. Proses penelitian evaluasi kurikulum.

  1. Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan dengan tiga hal, yaitu: (a) Konsep sebagai moral judgement (b) Evaluasi dan penentuan keputusan (c) Evaluasi dan konsensus nilai.
  2. Beberapa model dalam evaluasi yakni :

  1. Evaluasi Kurikulum Model Penelitian (Research Evaluation Model)
  2. Model Evaluasi Kurikulum yang Berorientasi pada Tujuan (Goal/Objective Oriented Evaluation)
  3. Model Evaluasi Kurikulum yang Lepas dari Tujuan (Goal Free Evaluation Model)
  4. Model Campuran Multivariasi
  5. Model Evaluation Program for Innovate Curriculumbs (EPIC)
  6. Model CIPP (Contex, Input, Process, and Product)
  7. Model Pendekatan Proses
  8. Model Evaluasi Kuantitatif
  9. Model Evaluasi Kualitatif


  1. Saran
    Evaluasi kurikulum sangat diperlukan untuk dilakukan ataupun dilaksanakan dilembaga-lembaga sekolah. Selain sangat berguna bagi guru, evaluasi kurikulum juga dapat dijadikan dasar dan petunjuk untuk memperbaiki, dan menyempurnakan kurikulum yang menjadi tanggung jawabnya.




DAFTAR RUJUKAN



Arifin, Zainal. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja   Rosdakarya, 2012.

Arikunto, Suharsimi dan Cepe Safrudin Abdul Jabar. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1997.

Hasan, Hamid. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Homalik, Omar. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990.

Munir. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta CV, 2008.

Nurkancana, Wayan. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1986.

Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Sudjana, Nana. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.

Sukmadinata. Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997.

Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Zaini. Pengembangan Kurikulum. Surabaya: eLKAF, 2006.

Zaini, Muhammad. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: TERAS, 2009.

















[1] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 1.
[2] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 104.
[3] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 108.
[4] Suharsimi Arikunto dan Cepe Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hlm. 4.
[5] Omar Homalik, Evaluasi Kurikulum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 52.
[6] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hlm. 172.
[7] Munir, Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bandung: Alfabeta CV, 2008), hlm. 106.
[8] Rusman, Manajemen Kurikulum (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 95.
[9] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 268.
[10] Ibid.
[11] Rusman, Manajemen Kurikulum, hlm. 96-97.
[12] Ibid., 98.
[13] Arifin, Konsep dan model, hlm. 268-269.
[14] Ibid., 269-270.
[15] Ibid.                                                                                                                                                                   
[16] Rusman, Manajemen Kurikulum, hlm. 94-95.
[17] Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 177.
[18] Zaini, Pengembangan Kurikulum (Surabaya: eLKAF, 2006), hlm. 105.
[19] Ibid., 152.
[20] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 170.
[21] Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 122.
[22] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hlm, 154.
[23] Arifin, Konsep dan Model, hlm, 285-286.
[24] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hlm. 154.
[25] Hasan, Evaluasi Kurikulum, hlm.227-228.

BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu[1]. Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan.[2] Evaluasi juga merupakan bagian dari manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Sedangkan Kurikulum adalah seperangkat perencanaan yang akan dilakukan oleh peserta didik baik di dalam maupun di luar kelas. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan maupun hasilnya.
    Setiap program, kegiatan-kegiatan atau sesuatu yang sudah direncanakan selalu diakhiri dengan yang namanya evaluasi. Evaluasi disini dimaksudkan untuk melihat kembali apakah suatu program atau kegiatannya telah sesuai dengan perencanaan atau belum sesuai. Maka dari kegiatan evaluasi di sini akan diketahui hal-hal yang telah atau akan dicapai sudahkah memenuhi kriteria yang ditentukan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut kemudian diambil keputusan apakah program tersebut akan dilanjutkan ataukah direvisi atau bahkan diganti seluruhnya.
  2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian, tujuan, dan fungsi dari evaluasi kurikulum?
  2. Bagaimana proses dari evaluasi kurikulum?
  3. Bagaimana peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan?
  4. Apa sajakah model-model evaluasi kurikulum?


  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengertian, tujuan dan fungsi dari evaluasi kurikulum.
  2. Untuk mengetahui proses dari evaluasi kurikulum.
  3. Untuk mengetahui peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan.
  4. Untuk mengetahui model-model evaluasi kurikulum.




BAB II

PEMBAHASAN



  1. Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Evaluasi Kurikulum

  1. Pengertian Evaluasi Kurikulum
    Kurikulum merupakan bagian dari pendidikan dalam lingkup yang luas. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan sedangkan evaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti juga mengevaluasi kurikulumnya. Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum merupakan evaluasi dari pendidikan, yang memusatkan perhatiannya pada program-program pada peserta didik. Hasil evaluasi kurikulum bermanfaat bagi penentu kebijakan dalam menentukan keputusan untuk melakukan perbaikan ataupun perubahan kurikulum.[3]
    Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evalusioner. Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahahui proses dan hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan.[4]
    Menurut Micheal Scriven dalam buku Nurgiantoro, mengemukakan bahwa proses penilaian terdiri dari tiga komponen, yaitu pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Ia mengartikan evaluasi sebagai “proses memperoleh informasi, mempergunakannya sebagai bahan pembuatan pertimbangan dan selanjutnya sebagai dasar pembuatan keputusan”. Tyler dalam buku Hamalik, berpendapat bahwa evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus diberlakukan dalam empat tahap yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi terhadap tujuan pembelajaran
  2. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum atau proses pembelajaran yang meliputi metode, media dan evaluasi pembelajaran.
  3. Evaluasi terhadap efektivitas, baik efektivitas waktu, tenaga dan biaya.
  4. Evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai.[5]

    Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu pengembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian, serta fasilitas pendidikan lainnya.[6]
    Evaluasi adalah langkah untuk memnentukan keberhasilan suatu kurikulum. Sekaligus juga menemukan kelemahan yang ada pada proses tersebut untuk diperbaiki. Evaluasi kurikulum dilakukan pada semua komponen kurikulum yaitu tujuan, materi, metode, dan evaluasi itu sendiri. Komponen-komponen ini mewarnai hasil evaluasi yang dilakukan, yaitu tentang validitas (kesahihan), realibitas (keterandalan), signifikansi (keterpercayaan), dan obyektifitas. Oleh karena itu evaluasi merupakan komponen yang sangat penting untuk menilai sejauh mana dan seberapa baik kurikulum dan proses pembelajaran berjalan secara optimal atau tidak. Dengan evaluasi, dapat diketahui apakah sasaran yang ingin dituju dapat dicapai atau tidak, sehingga akan diperoleh umpan balik tentang kurikulum atau pembelajaran. Berdasarkan umpan balik tersebut dilakukan perbaikan-perbaikan pada aspek-aspek yang kurang tepat dan pengembangan pada aspek-aspek yang sudah baik.[7]
    Biasanya suatu kurikulum yang akan dilaksanakan/diimplementasikan terlebih dulu diujicobakan dalam lingkungan terbatas (pilot study), sebelum akhirnya diputuskan untuk didesiminasikan kesemua lembaga pendidikan. Berbagai upaya perlu dilakukan selama fase pengembangan kurikulum dilakukan, termasuk kedalamnya adalah evaluasi dan revisi. Evaluasi yang disignifikan dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya suatu pengembangan kurikulum secara efektif dan bermakna. Dari hasil-hasil evaluasi inilah pihak pengembang dapat melakukan revisi dan penyesuaian sebelum kurikulum tersebut disebar luaskan.[8]
    Dengan demikian, pengertian evaluasi kurikulum adalah suatu tindakan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu kurikulum, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk akuntabilitas pengembang kurikulum dalam rangka menentukan keefektifan kurikulum.

  1. Tujuan Evaluasi Kurikulum
    Dalam kegiatan evaluasi, guru harus memahami terlebih dahulu tentang tujuan evaluasi. Bila tidak, maka guru akan mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan evaluasi. Tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem kurikulum, baik yang menyangkut tentang tujuan, isi/materi, strategi, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri.[9]
    Evaluasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan. Setiap bidang atau kegiatan mempunyai tujuan evaluasi yang berbeda. Dalam kegiatan bimbingan misalnya, tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakteristik peserta didik sehingga dapat diberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dalam kegiatan supervisi, tujuan evaluasi adalah untuk menentukan keadaan suatu situasi pendidikan atau pembelajaran sehingga dapat diusahakan langkah-langkah perbaikan intuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dalam kegiatan seleksi, tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai dari test untuk jenis pekerjaan atau jabatan tertentu.[10]
    Dalam sistem terobosan, tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk mengadakan perbandingan. Program yang ada dibandingkan dengan seperangkat tujuan baru yang didukung oleh kelompok orang tua, atau program yang ada diperbandingkan dengan program lain yang dipertimbangkan untuk pengadopsian disekolah. Ketika beberapa perbandingan diadakan, kebutuhan untuk menspesifikasikan dasar perbandingan merupakan hal yang terpenting. Mungkin perlu untuk memulainya dengan perbandingan orientasi saat itu dan praktik yang ditawarkan, dengan tujuan untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran, hasil, dan metodelogi diperbandingkan.[11]
    Menurut Stufflebeam, dkk. Tujuan utama evaluasi kurikulum adalah memberi informasi terhadap pembuat keputusan, atau untuk penggunaannya dalam proses menggambarkan hasil, dan memberikan informasi yang berguna untuk membuat pertimbangan berbagai alternatif keputusan.
    Jadi, pada hakikatnya tujuan evaluasi mencakup dua hal. Pertama, evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas program. Kedua, evaluasi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam implementasi kurikulum atau pembelajaran.[12]
  2. Fungsi Evaluasi Kurikulum
    Menurut Scriven, fungsi evaluasi dapat dilihat dari jenis evaluasi itu sendiri, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif berfungsi untuk perbaikan dan pengembangan bagian tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum yang sedang dikembangkan, sedanglan fungsi sumatif dihubungkan dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara keseluruhan.fungsi ini baru dapat dilaksanakan apabila pengembangan suatu kurikulum telah dianggap selesai. Sementara itu, Stufflebeam membedakan fungsi evaluasi menjadi dua, (a) proactive evaluation, yaitu untuk melayani pemegang keputusan, dan (b) retroactive evaluation, yaitu untuk keperluan pertanggungjawaban. Secara umum fungsi evaluasi kurikulum adalah (a) untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum yang diarahkan pada semua komponen kurikulum secara keseluruhan, (b) untuk memberikan informasi bagi pembuat keputusan, (c) untuk pertanggungjawabkan, laporan, seleksi dan penempatan, dan (d) untuk akreditasi, yaitu menilai kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.[13]
    Menurut Zainal Arifin, fungsi evaluasi dapat dilihat dari kebutuhan peserta didik dan guru, yaitu:

  1. Secara psikologis, peserta didik selalu butuh untuk mengetahui hingga mana kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Mereka masih mempunyai sikap dan moral yang heteronom, membutuhkan pendapat orang-orang dewasa sebagai pedoman baginya untuk mengadakan orientasi pada situasi tertentu. Pada umumnya mereka tidak berpegang pada pedoman yang berasal dari dalam dirinya, melainkan mengacu kepada norma-norma yang berasal dari luar dirinya. Dalam kegiatan kurikulum, peserta didik perlu mengetahui tingkat ketercapaian sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan.
  2. Secara sosiologis, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti bahwa peserta didik dapat berkomunikasi dan beradaptasi terhadap seluruh lapisan masyarkat dengan segala karakteristiknya, bahkan peserta didik diharapkan dapat membina dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam masyarakat. Hal ini penting karena mampu-tidaknya peserta didik terjun ke masyarakat akan memberikan ukuran tersendiri terhadap instusi pendidikan yang bersangkutan.
  3. Secara didaktis-metodis, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing serta membantu guru dalam usaha memperbaiki kurikulum.
  4. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui status peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang atau kurang pandai. Hal ini berhubungan dengan sikap dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama dan utama di lingkungan keluarga. Orang tua perlu mengetahui kemajuan anak-anaknya untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
  5. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya. Jika peserta didik sudah dianggap siap (fisik dan non-fisik), maka program pendidikan dapat dilaksanakan. Sebaliknya, jika peserta didik belum siap, maka hendaknya program pendidikan tersebut jangan dulu diberikan, karena akan mengakibatkan hasil yang kurang memuaskan.[14]
  6. Evaluasi berfungsi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas. Melalui evaluasi, guru dapat mengetahui potensi peserta didik, sehingga dapat diberikan bimbingan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Begitu juga tentang kenaikan kelas, jika peserta didik belum menguasai kompetensi yang ditentukan, maka peserta didik tersebut jangan dinaikkan ke kelas berikutnya atau yang lebih tinggi. Kegagalan ini merupakan hasil keputusan evaluasi.
  7. Secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan peserta didik itu sendiri. Hasil evaluasi dapat memberikan gambaran secara umum tentang semua hasil usaha yang dilakukan oleh instusi pendidikan.[15]


  1. Proses Evaluasi Kurikulum
    Proses evaluasi kurikulum berlangsung secara berkesinambungan dan merupakan keterpaduan dari semua dimensi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Proses tersebut berlangsung secara bertahap dan berjenjang yaitu:

  1. Proses analisis kebutuhan dan kelayakan sebagai langkah awal untuk mendesain kurikulum.
  2. Proses perencanaan dan pengembangan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan suatu lembaga pendidikan.
  3. Proses implementasi/pelaksanaan kurikulum yang berlangsung dalam suatu proses pembelajaran.
  4. Proses evaluasi kurikulum untuk mengetahui tentang tingkat keberhasilan kurikulum.
  5. Proses perbaikan kurikulum berdasarkan hasil evaluasi terhadap keterlaksanaan dan kelemahannya setelah dilakukan penilaian kurikulum.
  6. Proses penelitian evaluasi kurikulum, dalam hal ini erat kaitannya dengan tahap-tahap proses lainnya, tetapi lebih mengarah pada pengembangan kurikulum sebagai cabang ilmu dan teknologi.
    Evaluasi kurikulum mencakup keenam komponen tersebut. Dengan demikian, evaluasi kurikulum meliputi: komponen-komponen analisis kebutuhan dan studi kelayakan, perencaan dan pengembangan, proses pembelajaran, revisi kurikulum, dan research kurikulum.[16]
    Berikut cakupan proses evaluasi kurikulum:

  1. Judgement (menetapkan suatu nilai)

  • Subjektif
  • Objektif (berdasar kriteria yang disepakati)

  1. Kriteria

  • Internal (program)
  • Eksternal (luar program)

  1. Objek penilaian

  • Luas (program pendidikan)
  • Terbatas (program belajar-mengajar)[17]


  1. Peran Evaluasi Kurikulum dalam Pendidikan
    Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan dengan tiga hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Konsep sebagai moral judgement
    Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu nilai berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua pengertian yaitu:

  1. Evaluasi berisi satu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai.
  2. Evaluasi berisi suatu perangkat kriteria praktis yang berdasarkan kriteria, dengan kriteria tersebut suatu hasil dapat dinilai.


  1. Evaluasi dan penentuan keputusan
    Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inpsektur, pengembangan kurikulum dan sebagainya.
  2. Evaluasi dan konsensus nilai
    Kesatuan penilaian dapat dicapai melalui suatu konsensus. Konsensus tersebut berupakerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar behavorial, analisis statistik dari prestasi tes dan post tes. Ada dua kriteria dalam penilaian kurikulum:

  1. Kriteria berdasarkan tujuan yang telah ditentukan atau sering disebut kriteria patokan.
  2. Kriteria berdasarkan norma-norma atau standar yang ingin dicapai sebagaimana adanya.[18]


  1. Model-model Evaluasi Kurikulum
    Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum  juga merupakan suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi.
    Macam-macam model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang berorentasi tujuan berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum. Model atau pendekatan antropologis dalam evaluasi ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam lembaga sosial. Dengan demikian, sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum juga merupakan teori dari evaluasi kurikulum. [19]
    Ada beberapa model dalam evaluasi kurikulum, yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi Kurikulum Model Penelitian (Research Evaluation Model)
    Model evaluasi kurikulum yang menggunakan penelitian berdasarkan atas teori dan metode tes psikologi serta eksperimen lapangan. Salah satu pendekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lapangan adalah comparative approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan antara dua macam kelompok anak.
    Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi dan serta eksperimen lapangan. Tes psikologi atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditunjukkan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes bawaan yang mengukur perilaku skolastik.
    Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administrative, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji. Ketiga, sukar untuk mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontorol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan. [20]
  2. Model Evaluasi Kurikulum yang Berorientasi pada Tujuan (Goal/Objective Oriented Evaluation)
    Dalam model ini, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain, tetapi diukur dengan seperangkat tujuan atau kompetensi tertentu. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan atau kompetensi tersebut.
    Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model obyektif, yaitu sebagai berikut:

  1. Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum.
  2. Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa.
  3. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut.
  4. Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
    Dasar-dasar teori Tvlor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan kurikulum, dan mencapai puncaknya dalam sistem belajar berprogram dan sistem intruksional. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI. (individually prescribed instruction).
    Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang mengikuti tujuh unsur yaitu:

  1. Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit.
  2. Suatu prosedur program testing.
  3. Pedoman prosedur penulisan.
  4. Materi dan alat-alat pelajaran.
  5. Kegiatan guru dalam kelas.
  6. Kegiatan murid dalam kelas.
  7. Prosedur pengelolaan kelas.

  1. Model Evaluasi Kurikulum yang Lepas dari Tujuan (Goal Free Evaluation Model)
    Model ini dikembangkan oleh Micheal scriven, yang cara kerjanya berlawanan dengan model evaluasi yang berorintasi pada tujuan. Menurut pendapat Scriven, seorang evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya. Cara dengan memperhatikan dan mengidentifikasi penampilan yang terjadi, baik hal-hal yang positif yang diharapkan maupun hal-hal negatif yang tidak diinginkan.[21]
  2. Model Campuran Multivariasi
    Model campuran multivariasi adalah strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari beberapa model evaluasi kurikulum. Model ini memungkinkan perbandingan lebih dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur berdasarkan kriteria khusus dari masing-masing kurikulum.
    Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini yaitu:

  1. Mencari dan menentukan sekolah yang berminat untuk dievaluasi atau diteliti.
  2. Pelaksanaan program, bila tidak ada percampuran sekolah, maka tekanannya pada partisipasi yang optimal.
  3. Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpanya, dengan menggunakan metode global dan metode unsur, dan dapat disiapkan tes tambahan.
  4. Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan komputer.
  5.  Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari beberapa variable yang berbeda.
    Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multi variasi ini adalah:

  1. Diharapkan memberikan tes statistic yang signifikan.
  2. Terlalu banyaknya variable yang perlu dihitung pada suatu saat.
  3. Meskipun model ini mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah perbandingan.[22]



  1. Model Evaluation Program for Innovate Curriculumbs (EPIC)
    Model ini menggambarkan keseluruhan program evaluasi kurikulum dalam sebuah kubus. Kubus ini memiliki tiga bidang, bidang pertama adalah perilaku (Behavior) yang meliputi perilaku cognitive, affective, psychomotor. Bidang kedua adalah pembelajaran (intruction), yang meliputi organisasi, materi, metode fasilitas atau sarana dan pendanaan. Bidang ketiga adalah kelembagaan (instution) yang meliputi guru, murid, administrasi, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.
  2. Model CIPP (Contex, Input, Process, and Product)
    Model ini dikembangkan oleh Stuffle Beam dkk di Ohio State University AS dan model ini paling banyak diikuti oleh para evaluator. Model ini memandang bahwa kurikulum yang dievaluasi adalah sebuah sistem, maka apabila evaluator telah menentukan untuk menggunakan model CIPP, maka evaluator harus menganalisis kurikulum tersebut berdasarkan komponen-komponen model CIPP.
    Model ini mengemukakan bahwa untuk melakukan penilaian terhadap program pendidikan diperlakukan empat macam jenis yaitu:

  1. Penilaian konteks (context) yang berkaitan dengan tujuan.
  2. Penilaian proses (process) yang membimbing langkah operasional dan dalam pembuatan keputusan.
  3. Penilaian keluaran yang memberikan data sebagai tambahan pembuatan keputusan (product)[23]

  1. Model Pendekatan Proses
    Evaluasi kurikulum model pendekatan proses ini tumbuh dan berkembang secara kualitatif, yang menjadi pendekatan yang penting. Karakteristik model ini adalah:

  1. Kriteria yang digunakan untuk evaluasi tidak dikembangkan sebelum pelaksanaan (evaluator) berada dilapangan.
  2. Sangat peduli dengan masalah yang dihadapi oleh para pelaksana kurikulum.
  3. Evaluasi yang dilakukan terhadap kurikulum adalah merupakan satu-kesatuan yang utuh, tidak terpecah belah dalam bagian-bagian tertentu.
    Adapun prosedur evaluasi kurikulum model pendekatan proses adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data dari berbagai sumber, misalnya kepala sekolah atau madrasah, guru dan tenaga kependidikan.
  2. Menganalisis data setelah data terkumpul dari berbagai sumber.
  3. Pengambilan keputusan dan berpihak pada kelebihn dan kekurangan suatu kurikulum, sehingga akan melahirkan pemikiran alternatif untuk perbaikan atau inovasi atau kurikulum.[24]

  1. Model Evaluasi Kuantitatif
    Model kuantitatif ditandai oleh ciri yang menonjol dalam penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigma positivisme.
    Diantara model evaluasi yang masuk pada kategori kuantitatif adalah model yang dikembangkan oleh Tyler, dimana evaluasi yang dikemukakan dibangun atas dua dasar, yaitu: evaluasi yang ditunjukkan kepada tingkah laku peserta didik sebelum pelakasanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulun, sehingga evaluasi di fokuskan pada dimensi hasil belajar.
  2. Model Evaluasi Kualitatif
    Ciri khas dari model evaluasi kualitatif adalah selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itu kurikulum dalam dimensi kegiatan atau proes lebih mendapatkan perhatian dibandingkan dimensi lain suatu kurikulum walaupun harus dikatakan bahwa perhatian utama terhadap proses dimensi lain.
    Model utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Demikian kuatnya posisi studi kasus sebagai model utama dilingkungan evaluasi kualitatif sehingga setiap orang berbicara tentang model evaluasi kualitatif maka nama studi kasus segera muncul dalam kontak memorinya.[25]





BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Pengertian evaluasi kurikulum adalah suatu tindakan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu kurikulum, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk akuntabilitas pengembang kurikulum dalam rangka menentukan keefektifan kurikulum.
    Tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakteristik peserta didik sehingga dapat diberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya. Dan pada hakikatnya tujuan evaluasi mencakup dua hal. Pertama, evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas program. Kedua, evaluasi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam implementasi kurikulum atau pembelajaran.
    Secara umum fungsi evaluasi kurikulum adalah (a) untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum yang diarahkan pada semua komponen kurikulum secara keseluruhan, (b) untuk memberikan informasi bagi pembuat keputusan, (c) untuk pertanggungjawabkan, laporan, seleksi dan penempatan, dan (d) untuk akreditasi, yaitu menilai kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
  2. Proses evaluasi kurikulum berlangsung secara bertahap dan berjenjang yaitu:

    1. Proses analisis kebutuhan dan kelayakan sebagai langkah awal untuk mendesain kurikulum.
    2. Proses perencanaan dan pengembangan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan suatu lembaga pendidikan.
    3. Proses implementasi/pelaksanaan kurikulum yang berlangsung dalam suatu proses pembelajaran.
    4. Proses evaluasi kurikulum untuk mengetahui tentang tingkat keberhasilan kurikulum.
    5. Proses perbaikan kurikulum berdasarkan hasil evaluasi terhadap keterlaksanaan dan kelemahannya setelah dilakukan penilaian kurikulum.
    6. Proses penelitian evaluasi kurikulum.

  1. Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan dengan tiga hal, yaitu: (a) Konsep sebagai moral judgement (b) Evaluasi dan penentuan keputusan (c) Evaluasi dan konsensus nilai.
  2. Beberapa model dalam evaluasi yakni :

  1. Evaluasi Kurikulum Model Penelitian (Research Evaluation Model)
  2. Model Evaluasi Kurikulum yang Berorientasi pada Tujuan (Goal/Objective Oriented Evaluation)
  3. Model Evaluasi Kurikulum yang Lepas dari Tujuan (Goal Free Evaluation Model)
  4. Model Campuran Multivariasi
  5. Model Evaluation Program for Innovate Curriculumbs (EPIC)
  6. Model CIPP (Contex, Input, Process, and Product)
  7. Model Pendekatan Proses
  8. Model Evaluasi Kuantitatif
  9. Model Evaluasi Kualitatif


  1. Saran
    Evaluasi kurikulum sangat diperlukan untuk dilakukan ataupun dilaksanakan dilembaga-lembaga sekolah. Selain sangat berguna bagi guru, evaluasi kurikulum juga dapat dijadikan dasar dan petunjuk untuk memperbaiki, dan menyempurnakan kurikulum yang menjadi tanggung jawabnya.




DAFTAR RUJUKAN



Arifin, Zainal. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja   Rosdakarya, 2012.

Arikunto, Suharsimi dan Cepe Safrudin Abdul Jabar. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1997.

Hasan, Hamid. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Homalik, Omar. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990.

Munir. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta CV, 2008.

Nurkancana, Wayan. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1986.

Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Sudjana, Nana. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.

Sukmadinata. Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997.

Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Zaini. Pengembangan Kurikulum. Surabaya: eLKAF, 2006.

Zaini, Muhammad. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: TERAS, 2009.

















[1] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm. 1.
[2] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 104.
[3] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 108.
[4] Suharsimi Arikunto dan Cepe Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hlm. 4.
[5] Omar Homalik, Evaluasi Kurikulum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 52.
[6] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hlm. 172.
[7] Munir, Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bandung: Alfabeta CV, 2008), hlm. 106.
[8] Rusman, Manajemen Kurikulum (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 95.
[9] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 268.
[10] Ibid.
[11] Rusman, Manajemen Kurikulum, hlm. 96-97.
[12] Ibid., 98.
[13] Arifin, Konsep dan model, hlm. 268-269.
[14] Ibid., 269-270.
[15] Ibid.                                                                                                                                                                   
[16] Rusman, Manajemen Kurikulum, hlm. 94-95.
[17] Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 177.
[18] Zaini, Pengembangan Kurikulum (Surabaya: eLKAF, 2006), hlm. 105.
[19] Ibid., 152.
[20] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 170.
[21] Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 122.
[22] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hlm, 154.
[23] Arifin, Konsep dan Model, hlm, 285-286.
[24] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hlm. 154.
[25] Hasan, Evaluasi Kurikulum, hlm.227-228.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar