Selasa, 17 April 2018

PENDEKATAN PROSES KELOMPOK DAN PENDEKATAN SOSIOEMOSIONAL DI SMA NEGERI 3 PAMEKASAN


BAB I

PENDAHULUAN





  1. Latar Belakang
    Dalam proses belajar mengajar terdapat dua masalah yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas.[1] Antara keduanya diyakini mempunyai implikasi dalam pencapaian hasil belajar, maka supaya berhasil dalam proses belajar mengajar diperlukan adanya pendekatan-pendekatan di dalam proses belajar mengajar.
    Guru memiliki peran yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru juga sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah di tetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
    Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas saja, tetapi juga meliputi fasilitas fisik dan rutinitas. Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberikan penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif.


  2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian pendekatan proses kelompok dalam manajemen kelas?
  2. Apa tujuan dari pengelompokan?
  3. Model pembelajaran seperti apa yang dapat menunjang pendekatan proses kelompok?
  4. Apa pengertian pendekatan sosioemosional dalam manajemen kelas?


  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengertian pendekatan proses kelompok dalam manajemen kelas.
  2. Untuk mengetahui tujuan pengelompokan.
  3. Untuk mengetahui model pembelajaran yang dapat menunjang pendekatan proses kelompok.
  4. Untuk mengetahui pengertian pendekatan sosioemosional dalam manajemen kelas.




BAB II

PEMBAHASAN





  1. Pengertian Pendekatan Proses kelompok Dalam Manajemen Kelas
    Pendekatan proses kelompok (group process approach) disebut juga sebagai pendekatan sosio-psikologis merupakan pendekatan yang mengutamakan pengaturan dan pengoptimalan interaksi antar peserta didik dalam suatu kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien. Pendekatan ini dipilih berdasarkan prinsip psikologi sosial dan dinamika kelompok. Pendekatan proses kelompok memiliki beberapa latar belakang antara lain sebagai berikut: (a) kenyataan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung dalam kelompok yang berbasis kelas, (b) salah satu tugas guru adalah menciptakan dan mempertahankan situasi kelompok kelas agar tetap efektif, efisien dan produktif, (c) kelompok kelas merupakan sistem sosial yang memiliki prinsip-prinsip pengelolaan yang berlandaskan pendekatan kelompok.[2]
    Pendekatan kelompok suatu saat pasti diperlukan dan digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa amak didik adalah sejenis makhluk homo socius yaitu makhluk yang cenderung untuk hidup bersama. Dengan adanya pendekatan kelompok diharapkan siswa dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Pendekatan ini didasarkan pada Psikologi Sosial dan Dinamika kelompok. Oleh karena itu maka asumsi pokoknya adalah (1) pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok sosial, dan (2) tugas guru yang terutama dalam pengelolaan kelas adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.[3]
    Menurut T. Raka Joni bahwa proses kelompok adalah usaha pengelompokan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kondisi kelas yang bergairah dalam belajar.[4]Dalam hal ini Johsnon dan Bany yang dikutip oleh Noorhadi mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan proses kelompok diantaranya; keakraban, solidaritas, loyalitas, moral, kepuasan dan iklim.
    Menurut Richard A. Schmuck dan Patricia A. Schmuck unsur-unsur pengelolaan kelas dalam rangka pendekatan group procces adalah:

  1. Harapan Timbal Balik (mutual expectation)
    Harapan timbal balik tingkah laku guru-peserta didik dan antar peserta didik sendiri. Kelas yang baik ditandai oleh dimilikinya harapan (expectation) yang realistik dan jelas bagi semua pihak.
  2. Kepemimpinan (leadership)
    Kepemimpinan baik dari guru maupun dari peserta didik yang mngarahkan kegiatan kelompok ke arah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Pola Persahabatan (attraction)
    Pola persahabatan antara anggota kelas semakin baik ikatan persahabatan yang dimaksud semakin besar peluang kelompok menjadi produktif.
  4. Norma (norm)
    Norma, dalam arti dimiliki serta dipertahankan norma kelompok yang produktif, serta diubah dan digantinya norma yang kurang produktif.
  5. Komunikasi (communication)
    Terjadinya komunikasi yang efektif dalam arti sipenerima pesan menginterprestasikan secara benar pesan yang ingin disampaikan oleh sipengirim pesan dengan dipakainya keterampilan komunikasi interpersonal seperti paraphrasing (menafsirkan), perception checking (memeriksa) dan Feedback (umpan balik).


  6. Keeratan (cohesiveness)
    Yaitu perasaan keterikatan masing-masing anggota terhadap kelompok secara keseluruhan derajat perasaan keterikatan semakin tinggi semakin anggota memperoleh kepuasan sebagai hasil dari keanggotaannya dalam kelompok yang bersangkutan.[5]
    Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses pendekatan kelompok adalah usaha mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok kecil dengan tujuan membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik juga agar kelas lebih kondusif, efektif serta inovatif dan juga lebih menyenangkan/tidak membosankan. Dan juga diharapkan agar peserta didik lebih bertanggung jawab dan menciptakan terjalinnya kerjasama yang baik.


  1. Tujuan Pengelompokkan
    Ada tiga tujuan dasar pembentukan kelompok, yakni:

  1. Inklusi
    Hal yang sangat penting bagi guru-pelatih ialah memastikan bahwa semua anggota kelompok memiliki perasaan inklusi, seakan-akan masing-masing dari mereka punya seseuatu untuk disumbangkan kepada kelompok. Bila hanya sedikit siswa yang mendominasi kelompok dan mengabaikan anggota-anggota yang lain, ini berarti berkembangnya sebuah kelompok yang tidak berfungsi baik. Meskipun masing-masing siswa memiliki kelebihan yang berbeda, para guru harus berhati-hati agar tidak selalu memberikan peran yang sama kepada para siswa, sebab hal ini dapat menghambat siswa untuk mengembangkan kemampuannya yang lain.
  2. Tuntutan/Ketegasan
    Sebagian guru mungkin tidak sadar bahwa peran-peran tertentu akan menjadi lebih atau kurang memberatkan daripada peran yang lain. Ketika para siswa menganggap diri mereka sendiri sebagai pengelola tugas, mereka bebas untuk menuntut/menegaskan diri mereka sendiri dengan meminta masukan dari siswa-siswa yang lain jika perlu.
  3. Kerja Sama
    Dua tujuan pertama, inklusi dan tuntutan/ketegasan tidak pernah terpenuhi apabila anggota kelompok tidak memahami bahwa mereka mesti saling medukung dan bekerja sama satu sama lain. Pada saat yang sama, para guru harus membantu semua siswa memahami bahwa kerja sama tidak berarti kehilangan diri sendiri atau peran personal dalam kelompok.[6]
    Menurut Ibu Evy Setiawati Sukmana, S.Pd. yang berprofesi sebagai guru seni budaya dan juga selaku wali kelas XI IPA 5 di SMAN 3 Pamekasan menjelaskan bahwa pendekatan proses kelompok adalah pendekatan untuk menyatukan sesuatu yang akan diajarkan sehingga siswa dapat berinteraksi dengan teman dan lingkungannya. Tujuannya yakni: 1) tuntutan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), 2) untuk mendapatkan nilai kelompok pada siswa, 3) untuk menganalisis kemampuan siswa pada tiap materi dan, 4) untuk membuat siswa berinteraksi dengan temannya. Hal ini menunjukkan bahwa antara teori dan fakta berkesinambungan karena, di dalam teori memamparkan tentang tujuan pengelompokkan secara umum dan mengarah pada siswanya sedangkan fakta yang ada lebih mengarah kedua-duanya yaitu kepada tugas guru dan siswanya.


  1. Model Pembelajaran Yang Dapat Menunjang Pendekatan Proses Kelompok
    Dalam menerapkan pendekatan proses kelompok, guru harus mampu menciptakan kelompok belajar yang efektif dan produktif. Oleh karena itu, adanya model pembelajaran yang berorientasi pada kelompok akan menunjang penerapan pendekatan proses kelompok, contohnya adalah moodel pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
    Beberapa tipe model pembelajaran yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988) dan Sharan (1990) dalam (Rachmadi, 2006;135) adalah sebagai berikut:

  1. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
    Langkah-langkah dalam penerapan tipe jigsaw adalah:

  1. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda, digolongkan dari tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota kelompok asal disesuaikan dengan jumlah bagian materi pembelajaran yang akan dipelajari sesuai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.setiap siswa dalam kelompok diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi tersebut untuk mendiskusikan materi yang sama tadi, serta menyusun cara untuk menyampaikan kembali kepada anggotanya di kelompok asal.
  2. Setelah berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, kemudian masing-masing kelompok melakukan presentasi yang dilakukan secara acak (pengundian) dari salah satu anggota kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompoknya.
  3. Guru memberikan kuis pada siswa secara individual.
  4. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai kuis individual.
  5. Materi sebaiknya dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
  6. Perlu diperhatikan bahwa menggunakan jigsaw untuk belajar materi baru, maka perlu disiapkan suatu tuntutan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

  1. Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Head Together)
    Pada umumnya tipe ini digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi yang akan dicapai.
  2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar (awal).
  3. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor.
  4. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
  5. Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban siswa tersebut merupakan wakil jawaban kelompok.
  6. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
  7. Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual.
  8. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor berdasarkan perolehan skor kuis individual.

  1. Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
    Langkah-langkah penerapan STAD sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
  3. Guru membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah).
  4. Bahan materi yang telah disiapkan di diskusikan dalam kelompok untuk mencapai komptensi dasar.
  5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi yang dipelajari.
  6. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
  7. Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi.

  1. Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Individualizition atau Team Accelarated Instruction)
    Tipe TAI ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
  2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendaptakan skor dasar.
  3. Guru membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan berbeda-beda berdasarkan tingkat kemampuan mereka.
  4. Hasil belajar siswa secara individual di diskusikan dalam kelompok. dalam diskusi kelompok, setiap anggota saling memeriksa jawaban teman kelompoknya.
  5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
  6. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
  7. Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi.[7]

    Model pembelajaran yang digunakan oleh Ibu Evy adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurutnya model pembelajaran PBL ini merupakan pembelajaran berbasis masalah. Jadi, gurunya melemparkan masalah dan siswanya yang memberikan terobosan serta ide kepada gurunya atau sebaliknya siwa yang memberikan masalah pada guru dan gurunya yang memecahkan masalah. Dipilihnya model pembelajaran ini karena untuk memancing kreatifitas siswa untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh pendidik. Menurut saya antara teori dan fakta sudah sesuai dan model pembelajaran yang diterapkan oleh Ibu Evy di dalam kelasnya hampir sama dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Karena pada saat saya mengobservasi dan meneliti langsung, Ibu Evy tidak langsung membagi kelompok pada tiap-tiap kelas tetapi beliau menyelesaikan materi yang akan disampaikan terlebih dahulu dan mengobservasi pada masing-masing siswa mengenai materi yang belum dimengerti. Menurut beliau, jika membagikan kelompok tanpa menjelaskan dan menyampaikan materi terlebih dahulu maka dikhawatirkan siswa tidak akan mengerti tujuan dari materi itu. Lalu setelah materi dijelaskan secara umum dan keseluruhan diharapkan siswa dapat terpancing dan berpikir kreatif. Barulah beliau membagi dua kelompok pada masing-masing kelas yang tiap kelompoknya terdiri dari 20 siswa. Kelompok-kelompok disini diberi arahan dan penjelasan mengenai tugas yang diberikan, misalkan kelompok pertama diberi tugas tentang “Tari Menanam Padi” maka kelompok tersebut harus menyusun sinopsis terlebih dahulu baru mengarang gerakan sesuai tema tari yang diberikan. Setiap kelompok diberi waktu selama satu bulan untuk menyelesaikan maupun merampung menyelesaikan gerakan serta musik yang telah ditugaskan oleh beliau, dan setiap minggunya beliau juga rutin untuk mengevaluasi masalah tugasnya seperti menanyakan kendala apa saja yang menghambat siswa dalam berkreativitas dan sampai mana mereka mengarang gerakan serta musiknya. Setelah tugas dilaksanakan beliau juga memberikan penghargaan untuk kelompok yang nilainya tinggi, penampilannya bagus dan yang terbaik yaitu berupa piala dan piagam penghargaan.


  1. Pengertian Pendekatan Sosioemosional Dalam Manajemen Kelas
    Menurut Djamarah dan Zain (2003:203) mengatakan bahwa pendekatan sosioemosional dalam pembelajaran adalah suasana perasaan dan suasana sosial (social-emostionalclimate aproach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang posiitif artinya ada hubungan yang baik yang positif antara guru dengan anak didik atau antara anak didik dengan anak didik. Disini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan perannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat[8]. Dengan demikian, tugas yang amat pokok bagi guru ialah membangun hubungan interpersonal dan mengembangkan iklim sosioemosional yang positif. Oleh karena itu, seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap mengayomi atau sikap melindungi.
    Pendekatan iklim sosioemosional akan tercapai secara maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Iklim sosioemosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang guru berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaannyayang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati antar personal di kelas. Setiap personal diberi kesempatan masing-masing sehingga timbul suasana sosial emosional yang menyenangkan pada setiap personal dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
    Untuk menciptakan hubungan yang baik dengan siswa, guru perlu menerapkan sikap-sikap yang efektif, meliputi: (1) terbuka, (2) menerima dan menghargai siswa, (3) empati, dan (4) demokratis. Orstetin dan Levin (1984: 86) mengidentifikasi karakteristik guru yang efektif dalam pengelolaan kelas, yang meliputi mendorong dan memelihara minat siswa terhadap tujuan pembelajaran, serta mempertahankan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan keterampilan mengajar.[9]
    Dari penjelasan di atas dapat saya simpulkan bahwa pendekatan sosioemosional merupakan bentuk hubungan antara guru dengan siswanya dimana hal ini adanya keterkaitan antar keduanya dan adanya komunikasi dua arah untuk proses menciptakan suatu kondisi belajar yang baik, efektif dan efisien. Untuk menciptakan hubungan yang baik serta harmonis guru disini memiliki peran yang sangat penting yaitu seorang guru harus berusaha mendorong siswa agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang saling menghargai, menghormati dan mengayomi. Dan guru harus mampu serta bersedia terbuka, kreatif, bersedia mendengarkan pendapat, menerima dan memotivasi peserta didiknya.
    Menurut Ibu Evy pendekatan sosioemosional adalah permasalahan-permasalahan yang ada di dalam emosional siswa seperti permasalahan dengan teman sejawat, permasalahan dengan teman dekat maupun permasalahan dengan guru. Cara mengetahui bahwa seseorang siswa bermasalah yakni: 1) adanya laporan siswa baik yang bersangkutan ataupun dari teman yang bersangkutan 2) sikap siswa di dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) 3) sikap siswa di lingkungan sekolah 4) kontak siswa dengan teman secara langsung. Agar tercapainya pendekatan sosioemosional menurut Ibu Evy tidak bisa secara langsung melainkan dengan cara pendekatan secara intensif dan bila siswanya sudah bisa mencapai kesepakatan dengan guru maka akan diperoleh hasil yang maksimal. Caranya dengan mengajak siswa berbicara secara langsung dari hati ke hati, mengetahui alasan-alasan mengapa terjadi masalah dan memberikan solusi secara emosional atau langsung. Seperti memberikan contoh, membicarakan dengan orang tua siswa dan mengajak berbicara langsung diluar jam pelajaran ataupun diluar jam sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa antara teori dan fakta adalah mendukung, hanya saja di dalam teori penjelasannya menyeluruh mengenai sosioemosional antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa di dalam kelas. Sedangkan fakta lebih mengarah pada penjelasan mengenai masalah siswa yang terjadi di dalam kelas.




BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Pendekatan proses kelompok (group process approach) disebut juga sebagai pendekatan sosio-psikologis merupakan pendekatan yang mengutamakan pengaturan dan pengoptimalan interaksi antar peserta didik dalam suatu kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.
  2. Ada tiga tujuan dasar pembentukan kelompok, yakni: 1) Inklusi, hal yang sangat penting bagi guru-pelatih ialah memastikan bahwa semua anggota kelompok memiliki perasaan inklusi, seakan-akan masing-masing dari mereka punya seseuatu untuk disumbangkan kepada kelompok. 2) Tuntutan/Ketegasan, sebagian guru mungkin tidak sadar bahwa peran-peran tertentu akan menjadi lebih atau kurang memberatkan daripada peran yang lain. 3) Kerja Sama, dua tujuan pertama, inklusi dan tuntutan/ketegasan tidak pernah terpenuhi apabila anggota kelompok tidak memahami bahwa mereka mesti saling medukung dan bekerja sama satu sama lain.
  3. Dalam menerapkan pendekatan proses kelompok, guru harus mampu menciptakan kelompok belajar yang efektif dan produktif. Oleh karena itu, adanya model pembelajaran yang berorientasi pada kelompok akan menunjang penerapan pendekatan proses kelompok, contohnya adalah moodel pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
  4. Pendekatan sosioemosional dalam pembelajaran adalah suasana perasaan dan suasana sosial (social-emostionalclimate aproach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang posiitif artinya ada hubungan yang baik yang positif antara guru dengan anak didik atau antara anak didik dengan anak didik.


  1. Saran
    Guru harus kreatif dan inovativ dalam menerapkan pendekatan proses kelompok dalam berbagai model pembelajaran terutama model yang menekankan kerjasama kelompok, seperti model pembelajaran kooperatif. Dalam menerapkan pendekatan iklim sosioemosional di dalam kelas, guru sebaiknya memahami betul mengenai pendekatan iklim sosioemosional sehingga dalam penerapannya di dalam kelas diperoleh hasil yang maksimal dan diharapkan untuk mampu menganalisir latar belakang terjadinya sesuatu masalah agar diperoleh penyelesaian yang tepat.





DAFTAR RUJUKAN



Ahmadi, Abu dan Ahmad Rohani HM. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995.

Andi Stix dan Frank Hrbek, Guru Sebagai Pelatih Kelas. t.t : Erlangga, 2007.

A’dzjio, “Strategi Pendekatan Proses Kelompok”, Berbagi Ilmu Antar Sesama, di akses dari http://adzjiodoem.blogspot.com/2013/12/straregi-pendekatan-proses-kelompok.html?m=1, pada tanggal 10 Maret 2017 pukul 10.04.

Djamarah, Syaiful Bahri. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.

Ferdian, “Pendekatan Sosial-Emosional Dalam Pembelajaran”, Forum Guru Indonesia, diakses dari http://forumgurunusantara.blogspot.in/2012/10/pendekatan-sosial-emosional-dalam-pembelajaran.html?m=1, pada tanggal 24 Maret 2017 pukul 19.25.

Mudassir. Manajemen Kelas. Pekan Baru: Zanafa Publishing, 2011.

Mulyadi. Classroom Management. Malang: UIN Malang Press, 2009.

Zain, Aswan, Djamarah, dan Syaiful Bahri. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.















[1] Mulyadi, Classroom Management (Malang: UIN Malang Press, 2009), hlm. 1.
[2] Mudassir, Manajemen Kelas (Pekan Baru: Zanafa Publishing, 2011), hlm. 29-30
[3] Ahmad Rohani HM dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995), hlm. 143.
[4]Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm. 7.
[5] Rohani HM, Pengelolaan, hlm. 143-144.

[6]Andi Stix dan Frank Hrbek, Guru Sebagai Pelatih Kelas (t.t : Erlangga, 2007), hlm. 20-21.
[7] A’dzjio, “Strategi Pendekatan Proses Kelompok”, Berbagi Ilmu Antar Sesama, di akses dari http://adzjiodoem.blogspot.com/2013/12/straregi-pendekatan-proses-kelompok.html?m=1, pada tanggal 10 Maret 2017 pukul 10.04.
[8] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hlm. 183-184.
[9] Ferdian, “Pendekatan Sosial-Emosional Dalam Pembelajaran”, Forum Guru Indonesia, diakses dari http://forumgurunusantara.blogspot.in/2012/10/pendekatan-sosial-emosional-dalam-pembelajaran.html?m=1, pada tanggal 24 Maret 2017 pukul 19.25.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar