Selasa, 17 April 2018

MEMAHAMI TOTAL QUALITY MANAGEMENT


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Tuntutan akan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga pendidikan (termasuk pendidikan tinggi). Membuka sekolah di indonesia. Oleh karena itu persaingan di pasar kerja akan semakin ketat. Berbagai data menunjukan bahwa pendidkan pada beberapa tahun terahir masih belum menunjukan perubahan yang mengembirakan meskipun tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa sekolah /madrasah menunjukan peningkatan mutu pendiidkan yang cukup mengembirakan.
    Mengatasi perubahan–perubahan yang begitu cepat serta tantangan yanag semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi pemerintah dalam fungsinya sebagai penyelenggara pembangunan dibidang  pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik lainya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Usaha peningkatan mutu pelayanan pendidikan terkait dengan bagaimana usaha itu dengan mengdopsi istilah penjenjangan simennas dalam penyelenggaran negara maka perlu dilakukan baik pada jenjang kebijakan umum. Salah satu antaranya adalah kebjakan manajerial bisa dengan menerapkan manajemen mutu terpadu (TQM) untuk mengatasi pesatnya pengaruh global atau yang sering disebut globalisasi.
    Dalam konteks ini pendidikan dapat berlangsung seumur hidup dalam berbagai situasi baik dengan keteladanan, pembiasaan, bimbingan pengarahan, pembelajaran pelatihan, hukuman pujian dan lain-lain sedangkan sebagai lembaga pendidikan dapat berlangsung di rumah tangga dan lembaga masyarakat (pendidikan luar sekolah) sebagai oraginisasi pendidikan formal.
  2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Total Quality Management (TQM)?
  2. Apa saja prinsip-prinsip dan karakteristik Total Quality Management (TQM)?
  3. Bagaimana penerapan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan?

  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui pengertian Total Quality Management (TQM)?
  2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dan karakteristik Total Quality Management (TQM)?
  3. Untuk mengetahui penerapan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan?




BAB II

PEMBAHASAN



  1. Pengertian Total Quality Management
    Manajemen mutu terpadu (total quality managemen) adalah suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sesuatu dengan selalu baik sejak awal. Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan secara terus menerus. Kata manjemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi, apapun status, posisi atau perannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing.
    Sebagai sebuah manajemen yang berupa memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan melalui produk yang unggul, TQM memilki prinsip dan tugas berupa perbaikan secara terus menerus, perubahan kultur, organisasi terbalik menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan, kolegas sebagi pelanggan, dan pemasaran internal. Total quality management (TQM) pada mulanya adalah sebuah konsep majemen yang digunakan dalam kegiatan corporate atau perusahaan business yang tunduk pada hukum transaksional. Yaitu bahwa setiap usaha terukur dan dapat memberikan kepuasan pada pelanggan sesuai dengan nilai uang yang dibayarkan atau jasa yang diberikan. Dengan cara demikian, perusahaan tersebut akan dapat memuaskan pelanggan memperbaiki citra positif dan akhirya dapat mempertahankan kelanjutan (sustainability) perusahaan tersebut, dan dapat berhasil sukses dalam menghadapi persaingan global yang ketat.
    Total quality management digunakan dalam kegiatan lain terutama dalam kegiatan pendidikan hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bidang perdagangan yang menegaskan bahwa bidag pendidikan termasuk salah sau bidang usaha yang diperdagangkan. Dengan menggunakan TQM ini, maka majemen pendidikan tidak lagi berbasis pada proses atau semata-mata mutifasi spritual yang berbasis nirlaba melainkan menggunakan manajemen corporate, yaitu bahwa seluruh pesrta didik siswa atau mahasiswa ingin mendapatkan pelayanan yang memuaskan apabila tuntutan kepuasan ini tidak dipenuhi maka, siswa atau mahasiswa akan meninggalkan lembaga pendidikan tersebut sehingga lembaga pendidikan tersebut menjadi terancam kelanjutannya.[1]
    Pelaksanaan sistem penjaminan mutu dalam satu daur perbaikan mutu berkelanjutan pada perguruan tinggi yang dapat dilakukan melalui empat tahap kegiatan, yaitu: 1) memperbaiki perencanaan mutu , 2) mempertegas komitmen kebijakan mutu yang implementatif, 3) melakukan pengorganisasian mutu dengan taat kelola yang baik, dan 4) melakukan evaluasi dan pemantauan.[2]
    Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi pasal 51 ayat 1, menyebukan bahwa pendidikan tinggi yang bermutu merupakan pendidikan tinggi yang menghasilkan lulusan yang mampu secara aktif mengembangkan potensinya dan menghasilkan ilmu pengetahuan atau teknologi yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.[3]
  2. Prinsip Dan Karakteristik Total Quality Management

  1. Prinsip-prinsip Total Quality Management
    Menurut Dean sebagaimana dikutip oleh Ali Djhampuri (2001:8) prinsip umum manajemen mutu terpadu meliputi:

  1. Organisasi yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (customer)
    Organisasi dalam hal ini manajemen harus dapat mengoptimalkan seluruh potensi dan sumberdaya organisasi dan sistem yang ada untuk menciptakan aktifitas terhadap tercapainya kepuasan pelanggan. Tercapainya kepuasan pelanggan meliputi seluruh stakeholders, baik yang berada didalam organisasi untuk perguruan (tinggi, dosen,dan karyawan) dan yang berda diluar organisasi misalnya mahasiswa, pemerintah, dunia usaha sebagai pemakai produk (lulusan) dan pemasok serta masyarakat umumnya.
    Ekspektansi stakeholdres harus diletakan pada posisi dan perspektif yang dinamis dan bejangka panjang oleh karenanya harapan tersebut terjadi kewajiban organisasi untuk memenuhinya dalam kerangka pemuasan pelanggan yang berkelanjutan dan kemasa depan.
  2. Kepemimpinan
    Kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi pihak lain untuk mecapai tujuan organisasi. Oleh karenya pemimpin harus memilki visi dan misi yang jelas, sehingga keduanya dapat di untungkan dalam kebijakan yang akan diambil.
  3. Keterlibatan seluruh partisipan organisasi
    Seluruh komponen dalam organisasi tak terkecuali dalam lembaga pendidikan tinggi harus dilibatkan. Artinya seluruh aktifitas pendidikan tinggi harus selalu berusaha untuk melakuakn perbaikan secara terus menerus. Perbaikan bukan hanya dari pihak pimpinan, dosen, karyawan tetapi dosen harus memilki komitmen untuk melakukan perbaikan. Dengan kata lain semua  aktivitas pendidikan tinggi harus dilibatkan dalam upaya memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada pelanggan.
  4. Pendekatan yang menekankan pada perbaikan proses
    Kurangnya dukungan sistem informasi dan alat ukur keberhasilan TQM berasumsi bahwa out put suatu organisasi tidak semata-mata di lihat secara parsial, tetapi suatu proses yang panjang proses tersebut dilakukan secara sadar oleh setiap individu. Kegiatan tersebut juga dillakukan saling terkait satu dengan yang lainya sehingga menghasilkan out put organisasi. Jelasnya tamatan atau lulusan bukan semata-mata produk tenaga akademik,  atau karyawan saja, tetapi menyangkut proses akademik, karyawan, kepala sekolah, murid, orang tua, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas, yang tentu saja proporsinya berbeda satu dengan lainya.
  5. Penerapan manajemen dengan pendekatan sistem
    Dalam konteks organisasi upaya menyempurnakan proses tertentu harus dikaitkan dengan proses lainya. Oleh karena pihak-pihak yang terkait dengan proses tersebut merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tuntutan peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan oleh tenaga pengajar semata, tetapi pula melibatkan aspek ketatausahaan, kepemimpinan, fasilitas, dan penciptaan organisasi yang optimal yang mendukung.
  6. Langkah perbaikan yang dilakukan secara terus menerus
    Inti perbaikan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan adalah adanya human resources empowerment baik bagi tenaga edukatif maupun administratif. Realitas menunjukan belum seluruhnya pemimpin organisasi menyadari arti pentingnya pemberdayaan tenaga akademik dan administratif. Para pimpinan sering lebih mementingkan pengembangan fasilitas atau pembangunan fasilitas. Hal ini ditunjukan oleh adanya anggaran pendidikan dan pelatihan untuk kedua tenaga tersebut tidak atau setidak-tidaknya kurang berimbang dibandingkan dengan anggaran pembangunan fisik.
  7. Penerapan pengambilan keputusan yang berdasarkan fakta
    Manajemen mutu terpadu berdasarkan pada kepuasan pelanggan. Oleh karenanya maka orientasi manajemen mutu terpadu harus mendasarkan pada fakta yang diinginkan oleh pelnaggan. Pada sisi lain kepuasan berkaitan dengan kualitas. Implikasinya kualitas kepuasan tersebut harus dapat diukur dan dapat dilakukan monitoring setiap saat. Dengan demikian pemimpin organisasi harus dapat menciptakan dan mengembangkan alat ukur sebagai indikator keberhasilan suatu lembaga.
  8. Hubungan dengan supplyer yang saling menguntungkan.
    Filosofi manajemen mutu terpadu di perguruan tinggi: pertama, pemenuhan kebutuhan pelanggan yang sebaik-baiknya atau kepuasan pelanggan, serta kedua, menciptakan budaya kerja dan budaya akademik dalam diri karyawan maupun tenaga kependidikan dalam layanan pendidikan, misalnya motivasi, sikap, kemauan, dedikasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Masalahnya adalah setiap pelanggan memiliki ukuran yang berbeda. Dengan kata lain tolak ukur untuk setiap pelanggan adalah berbeda, misalnya bagi seorang guru salah satu tugasnya adalah melayani siswa yang kurang pintar justru senang. Sementara siswa puas dengan penguasaan teori secara tuntas dari pada masalah-masalah teknis, sedangkan siswa lain lebih senang dan puas dengan pemahaman yang sifatnya teknis.
    Perbedaan tolak ukur kepuasan ini memang sangat mungkin dan fakta menunjukan adanya pembedaan tersebut yaitu:

  1. Pelanggan berbeda kebutuhanya
  2. Kebutuhan pelanggan selalu berubah
  3. Sikap dan kemampuan pemberi pelayanan
  4. Jasa pendidik bersikap abstrak
    Menurut Winando (2001) mutu pendidikan pelayanan tinggi yang baik adalah :

  1. Sesuai dengan kebutuhan pelanggan syukur kalau melebihi
  2. Dapat menyajikan layanan jasa pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggannya baik peserta didik, dunia usaha maupun masyarakat.[4]

  1. Karakteristik Total Quality Management
    Karakteristik TQM antara lain adalah:

  1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
  2. Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas.
  3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
  4. Memiliki komitmen jangka panjang.
  5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork).
  6. Memperbaiki proses secara berkesinambungan.
  7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, memberikan kebebasan yang terkendali.
  8. Memiliki kesatuan tujuan.
  9. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.[5]

  1. Penerapan Total Quality Management Dalam Pendidikan

  1. Menciptakan dan memelihara ketepatan tujuan untuk meningkatkan layanan terhadap siswa dan sekolah. Tujuannya adalah untuk menciptakan siswa berkualitas baik yang mampu memperbaiki semua bentuk proses dan memasuki posisi yang berarti di masyarakat.
  2. Menganut filosofi baru. Manajemen sekolah harus menyadari tantangan, harus mempelajari tanggung jawab mereka dan mengambil kepemimpinan untuk berubah.
  3. Bekerja untuk menghapuskan angka dan pengaruh-pengaruh berbahaya dari penilaian terhadap siswa. Berfokus pada proses pembelajaran, bukan proses penilaian terhadap siswa.
  4. Menghentikan ketergantungan pada ujian untuk mencapai mutu. Menghapus kebutuhan untuk inspeksi pada suatu dasar massal (ujian-ujian prestasi yang terstandarisasi) dengan menyediakan pengalaman pembelajaran yang dapat menciptakan kinerja yang berkualitas; pengalaman pembelajaran yang dapat memotivasi kreativitas serta eksperimen.
  5. Bekerja dengan institusi-institusi pendidikan dengan tempat siswa berada. Meminimalkan total biaya pendidikan dengan cara meningkatkan hubungan dengan sumber-sumber siswa dan membantu meningkatkan mutu siswa yang menerima sistem pendidikan.
  6. Terus-menerus dan selalu memperbaiki sistem untuk meningkatkan layanan terhadap siswa dan pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu dan produktivitas dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
  7. Terus-menerus melembagakan pelatihan dalam jabatan bagi siswa, guru, staf khusus dan administrator; bagi semua orang yang berhubungan dengan organisasi kemanusiaan atau masyarakat.
  8. Melembagakan kepemimpinan. Tujuan dari supervisi atau kepemimpinan di sekolah seharusnya adalah untuk membantu guru dan staf sekolah dalam menggunakan teknologi dan materi untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik serta menentukan kecepatan untuk menggerakkan kreativitasnya.
  9. Mengusir ketakutan, supaya setiap guru dan staf sekolah bekerja secara efektif untuk suatu sistem sekolah. Ciptakan lingkungan sekolah yang memotivasi warga sekolah untuk berbicara dengan bebas dan mengambil resiko.
  10. Mematahkan rintangan di antara bagian-bagian. Orang dibagian pengajaran, pendidikan khusus, akuntansi, kantin, administrasi, pengembangan kurikulum dan penelitian harus bekerja sebagai suatu tim. Kembangkan strategi-strategi untuk meningkatkan kerjasama di antara kelompok dengan individu. Merencanakan waktu akan memfasilitasi dinamika ini.
  11. Menghapus slogan, pernyataan, dan target bagi guru dan siswa yang meminta kinerja yang sempurna dan tingkat produktivitas yang baru. Suatu pernyataan dapat menciptakan hubungan perselisihan. Penyebab rendahnya kualitas dan produktivitas termasuk sistemnya ada dibawah kendali guru dan siswa.
  12. a) Menghapus standar-standar pekerjaan (quota) guru dan siswa. Misalnya, nilai ujian naik 10% angka putus sekolah turun 15%. Megganti kepemimpinan, gerakan terus-menerus untuk mutu, dan pembelajaran yang menyenangkan. b) menghilangkan rintangan-rintangan yang merampas siswa, guru dan manajemen (kepala sekolah, pengawas sekolah dan staf pendukung dikantor sekolah) dari hak-hak mereka untuk bangga dan menikmati kecakapan kerja. Ini berarti penghapusan dari peringkat tahunan atau peringkat jasa dan dari management by objektive (MBO). Tanggung jawab dari semua pemimpin pendidikan harus berubah dari paradigma kuantitas kepada paradigma kualitas.
  13. Melembagakan suatu program pendidikn dan perbaikan diri yang kuat bagi setiap orang. Kemampuan guru dan manajemen sekolah ditingkatkan melalui pendidikan yang lebih tinggi. Mereka juga didorong dan difasilitasi untuk meningkatkan kualitas dirinya.
  14. Menempatkan setiap orang dalam masyarakat untuk bekerja melakukan transformasi. Transformasi merupakan pekerjaan dari setiap stakeholders sekolah. Partisipasi aktif dari stakeholder sekolah harus didorong dan dikembangkan secara terpadu untuk membudayakan mutu sekolah.[6]




BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Manajemen mutu terpadu (total quality managemen) adalah suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sesuatu dengan selalu baik sejak awal. Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan secara terus menerus. Kata manjemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi, apapun status, posisi atau perannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing.
  2. Menurut Dean sebagaimana dikutip oleh Ali Djhampuri prinsip umum manajemen mutu terpadu meliputi; a) Organisasi yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (customer), b) Kepemimpinan, c) Keterlibatan seluruh partisipan organisasi, d) Pendekatan yang menekankan pada perbaikan proses, e) Penerapan manajemen dengan pendekatan sistem, f) Langkah perbaikan yang dilakukan secara terus menerus, g) Penerapan pengambilan keputusan yang berdasarkan fakta, h) Hubungan dengan supplyer yang saling menguntungkan.
  3. Penerapan total quality management: a) Menciptakan dan memelihara ketepatan tujuan untuk meningkatkan layanan terhadap siswa dan sekolah, b) Menganut filosofi baru, c) Bekerja untuk menghapuskan angka dan pengaruh-pengaruh berbahaya dari penilaian terhadap siswa, d) Menghentikan ketergantungan pada ujian untuk mencapai mutu, e) Bekerja dengan institusi-institusi pendidikan dengan tempat siswa berada, f) Terus-menerus dan selalu memperbaiki sistem untuk meningkatkan layanan terhadap siswa dan pendidikan, g) Terus-menerus melembagakan pelatihan dalam jabatan bagi siswa, guru, staf khusus dan administrator; bagi semua orang yang berhubungan dengan organisasi kemanusiaan atau masyarakat, h) Melembagakan kepemimpinan, i) Mengusir ketakutan, supaya setiap guru dan staf sekolah bekerja secara efektif untuk suatu sistem sekolah, j) Mematahkan rintangan di antara bagian-bagian, k) Menghapus slogan, pernyataan, dan target bagi guru dan siswa yang meminta kinerja yang sempurna dan tingkat produktivitas yang baru, l) Menghapus standar-standar pekerjaan (quota) guru dan siswa, m) Melembagakan suatu program pendidikn dan perbaikan diri yang kuat bagi setiap orang, n) Menempatkan setiap orang dalam masyarakat untuk bekerja melakukan transformasi.
  4. Saran
    Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, sehingga kami meminta saran serta kritikan untuk perbaikan makalah kedepannya.




DAFTAR RUJUKAN



Ghafur, Hanief Saha. Manajemen Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010.

Nata, Abudin. Manejemen Pendidikan. Jakarta: Prenada Media, 2003.

Sudiono, Manajemen Pendidikan Tinggi. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004.

Susatio, Kristinawati Susatio.  Jurnal Pendidikan Penabur. Jakarta: BPK Penabur, cit.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012, Tentang Pendidikan Tinggi.










[1] Abudin Nata, Manejemen Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm, 377.
[2] Hanief Saha Ghafur, Manajemen Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di Indonesia (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010), hlm. 89.
[3] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012, Tentang Pendidikan Tinggi.
[4] Sudiono, Manajemen Pendidikan Tinggi (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 107-108.
[6] Kristinawati Susatio, Jurnal Pendidikan Penabur (Jakarta: BPK Penabur, cit), hlm. 88-89.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar