Selasa, 17 April 2018

PENERAPAN KEPEMIMPINAN KARISMATIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Problematika pendidikan adalah fenomena yang sangat penting dalam kehidupan, baik kehidupan keluarga atau berbangsa dan bernegara. Sebab, aktivitas ini telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan, kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah menciptakan manusia pertama, Adam di surga, dimana Allah telah mengajarkan kepada Adam semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali.[1] Disisi praktis lainnya, pendidikan sangat mempengaruhi maju mundurnya suatu bangsa.
    Pentingnya pendidikan Islam yang berkualitas semakin disadari oleh semua kalangan terutama stakeholders pendidikan Islam. Terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat yang maju dan mandiri hanya dapat diwujudkan jika pendidikan di masyarakat berhasil di tingkatkan. Pembangunan tidak dimulai dari barang-barang tetapi dimulai dari manusia dengan pendidikan. Oleh sebab itu, selama ini telah banyak pemikiran dan kebijakan yang diambil dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan agama Islam yang diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagai pengembangan sistem pendidikan di Indonesia, dan sekaligus hendak memberikan kontribusi dalam menjabarkan makna pendidikan nasional.[2]
    Berdasarkan fakta tersebut, lembaga pendidikan Islam khususnya pemimpin lembaga pendidikan Islam, perlu melakukan pembenahan terhadap komponen organisasi pendidikan Islam untuk terlibat secara total dalam mengidentifikasi dan pemecahan masalah-masalah lembaga pendidikan sehingga organisasi mampu untuk bereksperimen, membaik dan meningkatkan kapabilitasnya secara terus-menerus. Hal ini secara substansial “tergantung” pada pemimpin sebagai motivator dan mobilisator organisasi pendidikan Islam menuju organisasi pendidikan Islam pembelajar yang secara kontinuitas meningkatkan mutu pendidikan Islam. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kondisi yang demikian, pemimpin pendidikan Islam dengan pengaruhnya untuk membangun kepercayaan dari bawahannya yang salah satunya dengan menggunakan keistimewaan atau wibawa dirinya.
  2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana teori kepemimpinan kharismatik?
  2. Apakah pengertian kepemimpinan kharismatik?
  3. Apa saja ciri-ciri kepemimpinan kharismatik?
  4. Bagaimana perilaku-perilaku pemimpin kharismatik?
  5. Bagaimana penerapan kepemimpinan kharismatik dalam pendidikan Islam?

  1. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui teori kepemimpinan kharismatik.
  2. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan kharismatik.
  3. Untuk mengetahui ciri-ciri kepemimpinan kharismatik.
  4. Untuk mengetahui perilaku-perilaku pemimpin kharismatik.
  5. Untuk mengetahui penerapan kepemimpinan kharismatik dalam pendidikan Islam.





BAB II

PEMBAHASAN



  1. Teori Kepemimpinan Kharismatik
    Teori ini berlandaskan keyakinan bahwa pemimpin yang kharismatik mempunyai kekuatan supernatural, kekuatan yang tidak tampak, mengandung kekuatan magis melalui pancaran pribadi menyeluruh sang pemimpin yang mempengaruhi bawahannya secara sangat luar biasa (extraordinary). Pengaruh yang luar biasa ini dapat dilihat dari pengorbanan yang diberikan para pengikut untuk pribadi sang pemimpin, sampai-sampai mereka rela untuk menebus nyawanya bagi sang pemimpin. Konsep pemimpin yang kharismatik ini banyak bersumber dari ajaran agama dan sejarah Yunani kuno, yang menggambarkan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki para Nabi dan raja pada masa itu. Namun, konsep pemimpin kharismatik ini dalam pandangan ilmiah dipelopori oleh Robert House, yang meneliti para pemimpin politik dan religius di dunia (Robert House, 1971; Luthas, 1995).
    Menurut House, pemimpin kharismatik mempunyai karakteristik mencolok, seperti kepercayaannya pada bawahan yang besar, harapan yang tinggi bagi bawahannya, visi ideologi yang menimbulkan pengaruh kuat, dan menggunakan contoh dan teladan pribadinya pada bawahannya. Para pengikutnya mengidentifikasikan keseluruhan identitas dirinya dengan visi dan misi sang pemimpin, menunjukkan loyalitas yang sangat kuat, berusaha menjiwai nilai-nilai sang pemimpin serta perilakunya, dan mempunyai harga diri melalui hubungan dengan sang pemimpin.[3]
    Menurut Conger dan Kanungo, pemimpin kharismatik merupakan fenomena proses atribusi dan menegaskan bahwa pengaruhnya sangat bervariasi dalam berbagai situasi. Mereka juga menambahkan beberapa sifat pemimpin yang dapat menumbuhkan proses atribusi kharismatik, yaitu kepercayaan diri yang tinggi, keterampilan manajemen yang mengagumkan, sentivitas sosial, dan empati. Pemimpin kharismatik bisa saja menimbulkan dampak negatif bagi para pengikutnya. Hal ini pernah terjadi dalam sejarah, seperti pemimpin sekte sesat David Kores, yang mengajak para pengikutnya untuk melakukan bunuh diri massal. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ada dua karakteristik dari pemimpin kharismatik ini, yaitu pemimpin kharismatik yang etis dan pemimpin kharismatik yang tidak etis.[4]


Pemimpin Kharismatik
Yang Etis
Pemimpin Kharismatik
Yang Tidak Etis
1.      Menggunakan kekuasaan untuk melayani orang lain.
2.      Mempertimbangkan dan belajar dari kritikan.
3.      Meluruskan visinya dengan kebutuhan dan aspirasi pengikut.
4.      Menstimulasi pengikut untuk berpikir mandiri dan mempertanyakan pandangan pemimpinnya.
5.      Komunikasi dua-arah dan terbuka.
6.      Melatih, mengembangkan, dan mendorong pengikut, membagi penhormatan dengan orang lain.
7.      Mendasarkan diri pada nilai moral internal untuk memuaskan kepentingan organisasi dan masyarakat (Howel & Avolio, 1992)
1.      Menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya.
2.      Mementingkan visi pribadinya.
3.      Menolak dan menyensor kritik & perbedaan.
4.      Menuntut bawahan untuk patuh mengikuti keputusan pemimpin tanpa pertanyaan.
5.      Komunikasi satu-arah.
6.      Tidak peka terhadap kebutuhan pengikut.
7.      Mendasrkan diri pada nilai moral eksternal untuk memuaskan kepentingan diri sendiri.



Namun, ada fakta yang cukup menarik tentang kepemimpinan karismatik ini yaitu hasil penelitian yang mempelajari 90 pemimpin yang paling efektif dan sukses di Amerika Serikat. Di dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa pemimpin karismatikmempunyai empat kompetensi yang sama yakni: 1). Mempunyai visi atau pemahaman tujuan; 2). Dapat mengomunikasikan visinya dalam kata-kata yang jelas sehingga para pengikutnya dapat dengan mudah memihak; 3). Dapat menunjukkan konsistensi dan fokus dalam memburu visi kepemimpinannya; 4). Tahu kekuatannya sendiri dan memanfaatkannya. Selain itu, analisis yang paling menyeluruh telah dirampungkan oleh Cogger dan Kanungo dari Universitas McGill, yang sebagian kesimpulan yang dibuat menyatakan bahwa pemimpin karismatik memiliki tujuan ideal yang ingin dicapai, memiliki komitmen pribadi yang kuat pada tujuan, tidak konvensional, tegas dan percaya diri, serta sebagian agen perubahan radikal, bukan manajer dari status quo.[5]

  1. Pengertian Kepemimpinan Kharismatik
    Pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi untuk dapat memengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan usaha bersama yang mengarah kepada sasaran-sasaran tertentu. Sedangkan kharisma adalah suatu kata yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugerah”. Kekuatan yang tidak bisa dijelaskan secara logika disebut kharismatik. Sementara kharismatik itu sendiri mempunyai pengertian pancaran wibawa yang terpancar dari dalam diri seseorang.[6]
    Konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma menurut Weber:1947 lebih di tekankan kepada kemampuan pemimimpin yang memiliki kekuatan luar biasa dan mistis. Menurutnya, ada lima faktor yang muncul bersaman dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu adanya seseorang yang memiliki bakat yang luar biasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luar biasa yang bersifat transendental dan supranatural serta adanya bukti yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.
    Jadi, pemimpin kharismatik adalah seseorang pemimpin yang memancarkan aura wibawa yang mampu menarik perhatian bawahannya atau orang-orang yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
    Secara garis besar, pemimpin yang kharismatik adalah pemimpin seperti yang dikatakan oleh pahlawan pendidikan Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yakni pemimpin yang “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sesorang yang kharismatik adalah sosok yang pertama “ing ngarso sung tuladha”, yaitu sosok yang di depan dapat memberikan teladan yang baik bagi bawahannya. Yang kedua “ing madya mangun karsa” yaitu seseorang pemimpin yang mampu menempatkan diri dimana ia dibutuhkan, selain didepan ia juga harus dapat menempatkan diri di tengah-tengah bawahannya yakni sebagai pembina anggotanya, ia harus mampu melindungi bawahannya dan menuntun pada jalan yang benar. Yang ketiga “tut wuri handayani” yaitu seorang pemimpin yang mampu memberikan dorongan dan semangat dibelakang bawahannya.[7]
    Tipologi kepemimpinan kharismatik ini diwarnai oleh indikator sangat besarnya pengaruh sang pemimpin terhadap para pengikutnya. Kepemimpinan seperti ini lahir karena memiliki kelebihan yang bersifat psikis dan mental serta kemampuan tertentu sehingga apa yang diperintahkannya akan dituruti oleh pengikutnya, dan terkadang tanpa memperhatikan rasionalitas dari perintah tersebut. Jika dilihat lebih jauh, akan muncul kesan seakan-akan antara pemimpin dan pengikutnya ada daya tarik yang bersifat kebatinan atau magic.[8]
    Tipe kepemimpinan kharismatik ini memiliki kekuatan energi daya-tarik dan perbawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang pun orang tidak mengetahui benar-sebabnya, mengapa seorang itu memiliki karisma begitu besar. Dia dianggap mempunyai kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Mahakuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya-tarik yang teramat besar. Toko-tokoh besar semacam ini antara lain ialah: Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Sukarno, Margarete Tatcher, Gorbachev, dan lain-lain.[9]
    Penampilan fisik ternyata bukan ukuran yang berlaku umum karena ada pemimpin yang dipandang sebagai pemimpin yang kharismatik yang hanya kalau dilihat dari penampilan fisiknya saja sebenarnya tidak atau kurang mempunyai daya tarik. Usia pun tidak selalu dapat dijadikan ukuran. Sejarah telah membuktikan bahwa seorang yang berusia relatif muda pun mendapat julukan sebagai pemimpin yang kharismatik. Jumlah harta yang dimiliki pun nampaknya tidak bisa digunakan sebagai ukuran. Ada orang yang tergolong sebagai pemimpin yang kharismatik tetapi dari sudut kebendaan ia tergolong miskin.[10]

  2. Ciri-Ciri Kepemimpinan Kharismatik
    Pemimpin kharismatik kemungkinan akan mempunyai kebutuhan yang tinggi akan kekuatan, rasa percaya diri, serta pendirian dalam keyakinan-keyakinan dan cita-cita mereka sendiri. Suatu kebutuhan akan kekuasaan motivasi pemimpin tersebut untuk mencoba mempengaruhi para pengikut. Rasa percaya diri dan pendirian yang kuat meningkatkan rasa percaya para pengikut terhadap pertimbangan dan pendapat pemimpin tersebut.
    Ciri-ciri seorang pemimpin yang kharismatik:

  1. Mempunyai daya penarik yang sangat besar, karena itu umumnya mempunyai pengikut yang besar jumlahnya.
  2. Pengikutnya tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpin itu.
  3. Dia seolah-olah memiliki kekuatan gaib (supernatural power).
  4. Karisma yang dimilikinya tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan ataupun ketampanan si pemimpin.

Sebagai contoh: Mahatma Gandhi bukanlah seorang yang kaya, dan bukan pula seorang yang gagah atau tampan; Iskandar Zulkarnain, Raja Macedonia, bukan seorang yang berfisik sehat; John F. Kennedy terpilih sebagai Presiden AS meskipun pada waktu itu umurnya masih muda. Namun orang-orang tersebut adalah pemimpin-pemimpin yang memiliki kharisma.[11]




  1. Perilaku-perilaku Pemimpin Kharismatik
    Pemimpin kharismatik sering menjaga perilakunya di depan para bahwahannya agar dirinya terkesan berkompeten di bidangnya. Seorang pemimpin yang berkharisma pandai menyuarakan ideologinya yang berhubungan dengan tujuan organisasi, sehingga dapat menciptakan aspirasi bersama yang diakomodasikan terhadap bawahan. Pemimpin yang kharismatik juga suka memberikan contoh-contoh perilaku yang baik agar ditiru oleh bawahannya. Dalam proses ini pemimpin mampu memberikan kepuasan dan motivasi kepada bawahannya. Mereka suka memberikan motivasi secara bertahap dan berkesinambungan kepada bawahannya agar menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi terhadap bawahannya. Motivasi diberikan dengan cara memberikan pujian-pujian dan daya tarik emosional kepada bawahannya. Hal ini akan senantiasa menumbuhkan rasa percaya diri seorang bawahan dan secara tidak langsung menghidupkan kharisma seorang pemimpin.
    Berikut beberapa perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin kharismatik:

  1. Para pemimpin kharismatik menunjukkan perilaku-perilaku yang dirancang untuk menciptakan kesan di antara para pengikut bahwa pemimpin tersebut kompeten.
  2. Para pemimpin kharismatik akan menekankan pada tujuan-tujuan ideologis yang menghubungkan misi kelompok dengan nilai-nilai, cita-cita serta aspirasi-aspirasi yang berakar dalam dan dirasakan bersama oleh para pengikut.
  3. Para pemimpin kharismatik akan menetapkan suatu contoh dalam perilaku mereka sendiri agar diikuti oleh para pengikutnya.
  4. Pemimpin kharismatik akan mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi tentang kinerja para pengikut sedangkan pada saat bersamaan juga mengekspresikan rasa percaya tentang kinerja para pengikut.
  5. Pemimpin kharismatik akan berusaha berperilaku dengan cara yang menimbulkan motivasi yang relevan bagi misi kelompok.[12]


  1. Penerapan Kepemimpinan Kharismatik dalam Pendidikan Islam
    Muhaimin mengutip Maxwell dalam Kasali menyatakan bahwa ada 5 tahapan kepemimpinan yang meliputi:

  1. Level 1, pemimpin yang memimpin karena legalitas formal, misalnya memimpin karena surat keputusan (SK).
  2. Level 2, pemimpin yang memimpin dengan kecintaannya. Pemimpin pada level ini sudah memimpin orang, bukan memimpin pekerjaan.
  3. Level 3, pemimpin yang lebih berorientasi pada hasil. Pada pemimpin level ini prestasi kerja adalah sangat penting.
  4. Level 4, pada level ini pemimpin beusaha menumbuhkan pribadi-pribadi dalam organisasi untuk menjadi pemimpin.
  5. Level 5, pemimpin yang memiliki daya tarik luar biasa. Pada level ini orang-orang ingin mengikutinya bukan karena apa yang telah diberikan pemimpin secara personal atau manfaatnya, tetapi juga karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri seorang tersebut.[13]
    Bila diamati, maka pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan kharismatik terletak pada level 5 pada teori Maxwell tersebut. Seorang pemimpin yang bertipe kharismatik pada lembaga pendidikan Islam, akan sangat efektif di dalam pemimpin lembaga pendidikan tersebut.
    Pemimpin kharismatik dapat menggunakan suara hati/fitrahnya untuk melaksanakan proses kepemimpinan. Bukan hanya sekedar hasil dari pencitraan seolah-olah, tetapi memang pemimpin tersebut mempunyai kharisma yang luar biasa. Pemimpin yang mempunyai kharisma akan sangat mudah di dalam memimpin suatu lembaga pendidikan. Dikarenakan seluruh warga lembaga pendidikan tersebut mempunyai loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya.
    Contoh yang amat mudah adalah apa yang terlihat pada pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan salah satu unsur pendidikan Islam, khususnya di Indonesia. Kepemimpinan di pondok pesantren amat dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan kharismatik. Seorang kyai sebagai pemimpin pondok pesantren selalu identik dengan tipe kepemimpinan kharismatik. Seluruh warga lembaga pendidikan yang ia pimpin memiliki loyalitas yang sangat tinggi kepadanya. Dengan tipe kepemimpinan tersebut, pondok pesantren terbukti tidak pernah ditinggalkan umat. Tidak pernah dijumpai pondok pesantren yang gulung tikar karena kekurangan santru, berebda dengan sekolah yang dapat gulung tikar karena kekurangan siswa. Keadaan yang berbeda tersebut dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan yang berbeda di antara dua lembaga pendidikan tersebut.
    Hal ini membuktikan bahwa penerapan tipe kepemimpinan kharismatik di lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan, dan mempunyai nilai yang positif. Keberhasilan tipe kepemimpinan kharismatik tersebut juga tidak lepas dari adanya nilai-nilai agama yang melekat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sehingga tipe kepemimpinan kharismatik yang pada hakekatnya memang selalu identik dengan kepemimpinan dibidang politik dan keagamaan.[14]




BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan

  1. Pemimpin kharismatik mempunyai karakteristik mencolok, seperti kepercayaannya pada bawahan yang besar, harapan yang tinggi bagi bawahannya, visi ideologi yang menimbulkan pengaruh kuat, dan menggunakan contoh dan teladan pribadinya pada bawahannya. Para pengikutnya mengidentifikasikan keseluruhan identitas dirinya dengan visi dan misi sang pemimpin, menunjukkan loyalitas yang sangat kuat, berusaha menjiwai nilai-nilai sang pemimpin serta perilakunya, dan mempunyai harga diri melalui hubungan dengan sang pemimpin.
  2. Pemimpin kharismatik adalah seseorang pemimpin yang memancarkan aura wibawa yang mampu menarik perhatian bawahannya atau orang-orang yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
  3. Ciri-ciri seorang pemimpin yang kharismatik:

  1. Mempunyai daya penarik yang sangat besar, karena itu umumnya mempunyai pengikut yang besar jumlahnya.
  2. Pengikutnya tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpin itu.
  3. Dia seolah-olah memiliki kekuatan gaib (supernatural power).
  4. Karisma yang dimilikinya tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan ataupun ketampanan si pemimpin.

  1. Beberapa perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin kharismatik:

  1. Para pemimpin kharismatik menunjukkan perilaku-perilaku yang dirancang untuk menciptakan kesan di antara para pengikut bahwa pemimpin tersebut kompeten.
  2. Para pemimpin kharismatik akan menekankan pada tujuan-tujuan ideologis yang menghubungkan misi kelompok dengan nilai-nilai, cita-cita serta aspirasi-aspirasi yang berakar dalam dan dirasakan bersama oleh para pengikut.
  3. Para pemimpin kharismatik akan menetapkan suatu contoh dalam perilaku mereka sendiri agar diikuti oleh para pengikutnya.
  4. Pemimpin kharismatik akan mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi tentang kinerja para pengikut sedangkan pada saat bersamaan juga mengekspresikan rasa percaya tentang kinerja para pengikut.
  5. Pemimpin kharismatik akan berusaha berperilaku dengan cara yang menimbulkan motivasi yang relevan bagi misi kelompok.

  1. Penerapan tipe kepemimpinan kharismatik di lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan, dan mempunyai nilai yang positif. Keberhasilan tipe kepemimpinan kharismatik tersebut juga tidak lepas dari adanya nilai-nilai agama yang melekat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sehingga tipe kepemimpinan kharismatik yang pada hakekatnya memang selalu identik dengan kepemimpinan dibidang politik dan keagamaan

  1. Saran
    Tipe kepemimpinan kharismatik sangat baik apabila digunakan di dalam memimpin sebuah lembaga atau organisasi pada umumnya. Kharisma seorang pemimpin dalam memengaruhi bawahannya sangat kuat. Namun, tipe kepemimpinan kharismatik ini akan berantakan atau berjalan tidak baik apabila pemimpinnya mempunyai rasa optimisme yang berlebihan, berperilaku impulsif, kurang sadar akan kesalahannya, dan tindakan-tindakan negatif lainnya.
    Maka dari itu, hendaknya seorang pemimpin mengenal dirinya sendiri dan juga mengenal orang lain, serta membangun kebersamaan dengan menyebarkan cinta kasih antara dirinya dengan orang lain.




DAFTAR RUJUKAN



Dedi Noviyanto, “Kepemimpinan Kharismatik dalam Pendidikan Islam”, Media Tarbiyah dan Da’wah, di akses dari https://dedinoviyanto.wordpress.com/my.papers/tentang-pendidikan-kepemimpinan-kharismatik-dalam-pendidikan-islam//, pada tanggal 21 November 2016 pukul 11.39.

Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Press, 1983.

Marno. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. B.andung: Refika Aditama, 2008.

Masudah, “Pengaruh Pemimpin Karismatik”, Masudah Education, diakses dari http://masudaheducation.blogspot.com/2014/11/pengaruh-pemimpin-karismatik.html?m=1, pada tanggal 21 November 2014 pukul 17.45.

Umiarso dan Haris, Fathoni Makmur. Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern. Yogyakarta: IRCiSoD, 2010.

Muhaimin. Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kencana Persada Media Group, 2010.

Muhaimin. Pengembangan Kurikulum  Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010.

Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Safaria, Triantoro. Kepemimpinan. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.

Sondang, Siagian. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.





[1] Umiarso dan Haris Fathoni Makmur, Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern (Yogyakarta: IRCiSoD, 2010), hlm. 21.
[2] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum  Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 16.
[3] Triantoro Safaria, Kepemimpinan (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), hlm. 60.
[4] Ibid., 61.
[5] Baharuddin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012), hlm. 210-211.

[6] Marno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung: Refika Aditama, 2008), hlm. 22.
[7] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: Rajawali Press, 1983), hlm. 87-88.
[8] Baharuddin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam, hlm. 203.
[9] Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 81.
[10] Siagian Sondang, Teori dan Praktek Kepemimpinan (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 37.
[11] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 51.
[12] Masudah, “Pengaruh Pemimpin Karismatik”, Masudah Education, diakses dari http://masudaheducation.blogspot.com/2014/11/pengaruh-pemimpin-karismatik.html?m=1, pada tanggal 21 November 2014 pukul 17.45.
[13] Muhaimin. Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah/Madrasah (Jakarta: Kencana Persada Media Group, 2010), hlm. 29.
[14] Dedi Noviyanto, “Kepemimpinan Kharismatik dalam Pendidikan Islam”, Media Tarbiyah dan Da’wah, di akses dari https://dedinoviyanto.wordpress.com/my.papers/tentang-pendidikan-kepemimpinan-kharismatik-dalam-pendidikan-islam//, pada tanggal 21 November 2016 pukul 11.39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar