Selasa, 17 April 2018

PARADIGMA BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


BAB I

PENDAHULUAN



  1. Latar Belakang
    Manusia memperoleh sebagian besar dari kemampuannya melalui belajar. Belajar adalah suatu peristiwa yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati, diubah dan dikontrol (Robert M. Gagne 1977) kemampuan manusia yang dikembangkan melaui belajar yaitu pertama; keterampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, keterampilan motorik dan sikap.
    Pendidik dituntut untuk mencapai kemampuan-kemampuan tertentu. Dalam hal ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena desain pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi atau merencanakan suatu pola yang dapat digunakan untuk menyediakan kondisi belajar.
    Dalam kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari belajar, karena dengan belajar manusia menjadi mengerti dan memahami tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Belajar memegang peranan penting didalam perkembangan, kebiasan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian dan persepsi manusia. Oleh karena itu seseorang harus menguasai prinsip-prinsip dasar belajar agar mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu mempunyai peranan penting dalam spikologis dan kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

  2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana teori belajar dan pembelajaran humanisme?
  2. Bagaimana teori belajar dan pembelajaran konstruktivisme serta proses belajar menurut teori tersebut?


  1. Tujuan

  1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran humanisme.
  2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang teori belajar dan pembelajaran kontruktivisme serta proses belajar menurut teori konstruktivisme.


BAB II

PEMBAHASAN



  1. Teori Belajar dan Pembelajaran Humanisme
    Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang tampak dari para pendidik beraliran humanisme.[1]
    Pembelajaran dengan menggunakan pandangan dan prinsip aliran belajar humanistik, juga mengupayakan pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik pembantu anak didik untuk meningkatkan kemampuan berkreasi, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Para guru/pendidik dengan pandangan ini berupaya untuk melihat dalam spektrum yang luas mengenai perilaku manusia. Dalam perspektif ini, sangat tampak bahwa pembelajaran dengan pendekatan ini sangat menekankan aspek emosi. Emosi dilihat sebagai suatu yang memberikan keuntungan dalam pembelajaran dan pendidikan.
    Menurut teori belajar humanistik, pendidik diharapkan dapat membantu dalam mengembangkan diri siswa untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik, sekaligus membantu siswa dalam mewujudkan potensi-potensi dalam diri mereka. Potensi manusia yang akan menghasilkan kemampuan bertindak positif. Orang tua, guru dan pendidikan diharapkan dapat mengarahkan pembelajarannya pada pengembangan potensi peserta didik sehingga dapat menumbuhkembangkan kompetensi/kemampuan positif. Kemampuan positif sangat erat dengan perkembangan daya kreatif dan emotif yang terdapat dalam domain afektif, misalnya keterampilan membangun dan menjaga interaksi dan interelasi dengan orang lain. Disamping itu guru dapat mengembangkan pembelajaran yang menumbuhkembangkan kepercayaan, penerimaan, kesadaran, memahami kejujuran orang lain, interelasi interpersonal, dan sebagainya. Secara substansial dapat ditegaskan bahwa pembelajaran dengan menggunakan prinsip-prinsip humanistik menekankan pada pengembangan kualitas keterampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari.[2]
    Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka. Teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajar yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.[3] Bagi para penganut teori humanistik, proses belajar harus bermuara pada manusia. Teori belajar ini yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan (Uno, 2008: 13).
    Menurut Asri Budiningsih (2005: 77), menurut konsep dasar teori belajar humanistik, agar proses belajar dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan bermakna bagi siswa, diperlukan insiatif dan keterlibatan siswa secara total dan mengikuti proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Oleh sebab itu, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam merancang proses pembelajaran berdasarkan teori belajar humanistik. Menurut Suciati Prasetya Irawan dalam Asri Budiningsih (2005: 77), beberapa langkah dalam melaksankan proses pembelajaran berdasarkan konsep belajar humanistik sebagai berikut.

  1. Guru harus menentukan tujuan-tujuan pembelajaran yang ingin dan            
    akan dicapai dan yang memungkinkan siswa dapat dilibatkan
    secara aktif dan mengalami sendiri dalam proses pembelajarannya.
  2. Guru menentukan ruang lingkup dan muatan materi  yang sesuai
    dengan tujuan pembelajaran untuk disampaikan pada siswa.
  3. Guru mengidentifikasi tingkat kemampuan dan pengetahuan yang
    telah dimiliki siswa sebelumnya terkait dengan materi pelajaran
    yang akan disampaikan.


  1. Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori humanistrik sering di kritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi daripada bidang pendidikan, sehingga sukar menterjemahkannya kedalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Semua komponen pendidikan termasuk tujan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas kemana ia akan berkembang. Dengan demikian teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.

Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks maupun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuan. Meskipun teori humanistik ini masih sukar diterjemahkan kedalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, kearah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan tentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut teori ini, agar belajar bermakna bagi siswa, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siwa sendiri. Maka siswa akan mengalami belajar eksperiensial (eksperientasial learning).

Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara eksplisit belum ada pedoman baku tentang langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
  2. Menentukan materi pelajaran.
  3. Mengidentifikasi kemampuan awal (entry behavior) siswa.
  4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
  5. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
  6. Membimbing siswa belajar secara aktif.
  7. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
  8. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
  9. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru kesituasi nyata.
  10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.[4]



  1. Bentuk Model Pembelajaran Berdasarkan Teori Humanistik

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik cocok diterapkan pada materi-materi pelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Siswa diharapkan akan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat pada pendapat orang lain, serta mampu mengatur diri sendiri tanpa mengganggu hak-hak orang lain  secara bertanggung jawab. Indikator keberhasilan applikasi teori pembelajaran ini adalah siswa merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar, dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku, dan sikap atas kemauan siswa itu sendiri.

Penerapan teori belajar humanistik dalam pendidikan modern atau kontemporer berdampak pada munculnya konsep dan beberapa model pembelajaran. Menurut Sri Rumini dkk. (2006: 110-216), terdapat tiga bentuk model pembelajaran modern yang kemunculannya didasari teori belajar humanistik, yaitu confluent education, open education, dan cooperative learning.

  1. Confluent Education
    Confluent education merupakan model pembelajaran dalam pendidikan yang memadukan atau mempertemukan pengalaman-pengalaman afektif dengan belajar kognetif didalam kelas (Rumini dkk., 2006:110). Model ini menekankan keterlibatan aktif siswa secara pribadi dalam proses pembelajaran. Misalnya, guru sejarah memberikan tugas siswa untuk membaca novel yang memuat nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan pengorbanan seperti novel perang. Dengan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami isi bacaan tersebut, tetapi juga lebih dari itu mencakup nilai-nilai yang terkandung didalamnya dengan cara membahas novel tersebut. Kegiatan ini dilengkapi dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan isi novel seperti:

  1. Melakukan wawancara dengan orang yang tahu dan mengalami masa perang;
  2. Memperdebatkan apakah perang dapat dihindari atau tidak;
  3. Membicarakan dampak-dampak perang didunia yang faktual atau dalam sejarah.

  1. Open Education
    Open education merupakan proses pendidikan secara terbuka. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan dan kebebasan kepada siswa untuk bergerak bebas dilingkungan kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri sesuai minat dengan bimbingan dan pendampingan guru (Rumini dkk., 2006:112). Desain dan susunan kelas sebagai lingkungan belajar terbagi dalam beberapa pusat kegiatan belajar yang tersebar dilingkungan kelas yang tersedia bagi siswa untuk belajar secara mandiri, baik secara individu maupun kelompok-kelompok kecil yang mengeksplorasi bidang-bidang pelajaran tertentu, keterampilan serta minat-minat tertentu. Misalnya, ada pusat belajar dengan computer disebuah sudut kelas, disudut yang lain terdapat buku-buku, disudut yang lain terdapat macam-macam alat peraga, dan sebagainya.
         Pusat-pusat tersebut menyediakan petunjuk dan kebebasan siswa dalam mempelajari sesuatu tanpa hadirnya guru. Menurut Sri Rumini dkk. (2006:112, hasil penelitian menunjukkan bahwa program open education ini hanya sedikit lebih efektif daripada pendidikan tradisional dalam meningakatkan hasil belajar yang yang bersifat efektif, kerjasama,  kreativitas, dorongan berprestasi, dan sebagainya. Namun demikian pengajaran tradisional lebih berhasil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa secara ognitif.
  2. Cooperative Learning
    Menurut ricard I.Arends (2008: 5), model cooperative learning di tandai adanya tugas-tugas, tujuan, dan reward yang cooperative. Artinya, siswa di dorong untuk dapat mengerjakan tugas-tugas belajar secara bersama-sama dengan temannya lainnya. Dengan demikian, pada dasarnya model pembelajaran cooperative paling tidak ingin mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti peningkatan akademik siswa, menumbuhkan jiwa toleransi pada siswa, menumbuhkan jiwa-jiwa siswa yang mau nerima perbedaan atau keberagamaan, serta mengembangkan keterampilan sosial siswa.
    Oleh sebab itu, cooperative merupakan pondasi atau dasar untuk meningkatakan siswa berprestasi dengan lebih baik tanpa kehilangan segi sosialnya. Menurut Richard I. Arends (2008: 5) cooperative learning memiliki empat karakteristik antara lain 1) siswa belajar dalam tim untuk mencapai tujuan-tujuan belajar, 2) tim-tim terdiri dari gabungan siswa-siwa dengan prestasi rendah, sedang, dan tinggi, 3) apabila memungkinkan tim-tim terdiri siswa yang berbeda atas campuran berbagai jenis ras, budaya, gender, dan 4) sistem pemberian hadiahnya (reward) berorientasi pada kelompok maupun individual.


  1. Teori Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme serta Proses Belajarnya

  1. Teori Belajar dan Pembelajaran Konstruktivisme
    Dalam psikologi pendidikan di kelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.
    Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (Nur, 2002: 8).[5] Dan pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke dalam pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
    Pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstrukvisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
    Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi, konsep, dsb) atau pengalaman baru kedalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseoramg.
    Sementara itu, akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Hal itu, dikarenakan informasi baru tersebut agak berbeda atau sama sekali tidak cocok dengan skemata yang telah ada. Jika informasi baru, betul-betul tidak cocok dengan skemata yang lama, maka akan dibentuk skemata baru yang cocok dengan informasi itu. Sebaliknya, apabila informasi baru itu hanya kurang sesuai dengan skemata yang telah ada, maka skemata yang lama itu akan direstrukturisasi sehingga cocok dengan informasi baru itu.[6]
    Dengan demikian, asimilasi dan akomodasi merupakan dua aspek penting dari proses yang sama yaitu pembentukan pengetahuan. Kedua proses itu merupakan aktivitas secara mental yang hakikatnya adalah proses interaksi antara pikiran dan realita. Seseorang menstruktur hal-hal yang ada dalam pikirannya, namun bergantung pada realita yang dihadapinya. Jadi, adanya informasi dan pengalaman baru sebagai realita mengakibatkan terjadinya rekonstruksi pengetahuan yang lama yang disebut proses asimilasi-akomodasi sehingga terbentuk pengetahuan baru sebagai skemata dalam pikiran seseorang.[7]
    Sehubungan dengan hal tersebut. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstrukvisme sebagai berikut. Pertama, peran aktif siswa dalam mengonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua, pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengonstruksian secara bermakna. Ketiga, mengaitkan antara gagasan dan informasi baru yang diterima.
    Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak adalah:

  1. Tujuan pendidikan menurut teori belajar.
  2. Konstrukvisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
  3. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai monitor, fasilator, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta pendidik. Implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam proses pembelajaran yaitu, pertama pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
    Disamping itu, teori belajar konstruktivistik menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik dapat ditegaskan, bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah ia alami. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
    Dalam upaya menginplementasikan teori belajar konstruktivisme, mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
  2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
  3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
  4. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.
  5. Mendorong siswa untuk menentukan perubahan gagasan mereka.
  6. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
    Dalam pembelajaran dengan menggunakan paradigma dan pendekatan konstruktivistik, guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar murid belajar dengan baik. Tekanan ada pada siswa yang belajar bukan kepada guru yang mengajar. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut:

  1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian.
  2. Menyediakan kegiatan yang merangsang keingin tahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiahnya.
  3. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si murid jalan atau tidak. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan murid.
    Guru berdasarkan teori konstruktivisme bukan merupakan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Hal ini didasari bahwa setiap manusia mulai dari kandungan sudah dikenali oleh pengetahuan dasar dengan memberikan respon terhadap rangsangan. Kemudian setelah bayi itu lahir dan kemudian berinteraksi dengan lingkungan maka sebenarnya anak tersebut sudah memiliki bekal pengetahuan awal. Berpijak dari pikiran inilah, guru konstruktivis berperan menggali pengetahuan awal siswa untuk dikembangkan ke potensi maksimal. Selain hal tersebut diatas, guru perlu menciptakan suasana yang membuat murid antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya.[8]


  1. Proses Belajar Konstruktivisme
    Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan konstruktivistik, dari aspek-aspek si-belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
    Proses belajar konstruktivistik. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuhtakiran struktur kognitifnya.  Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya daripada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas.[9] Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun diluar kelas. Oleh karena itu siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Sehingga dalam proses belajar, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
    Peranan siswa (si-belajar). Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang di pelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatan bahwa hakikatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa[10] dan siswa menjadi pusat kegiatan sedangkan guru sebagai fasilitatornya. Karena belajar merupakan suatu proses pemaknaan atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi serta interpretasi yang harus dilakukan oleh siswa sendiri.
    Peranan  guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak menstransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
    Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi;

  1. Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
  2. Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa.
  3. Menyediakan system dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
    Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya di sediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.[11]
    Evaluasi belajar. Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.[12] Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar yang menekankan pada keterampilan proses baik individu maupun kelompok. Dengan cara ini maka kita dapat mengetahui seberapa besar suatu pengetahuan yang telah dipahami oleh siswa.




BAB III

PENUTUP



  1. Kesimpulan
    Teori belajar humanistik adalah teori belajar dan pembelajaran yang mengedepankan manusia dalam pembelajarannya, menurut pandangan humanistik pendidik bukan sekedar mengembangkan aspek kognitif siswa, akan tetapi pendidik juga dapat mengembangkan aspek keterampilan serta sikap. Guru dalam teori humanistik sebagai fasilator, guru memberikan motivasi kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Sedangkan teori konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengornisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa namun, siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Dan guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
  2. Saran
    Diharapkan kepada para pembaca khususnya peserta didik baik pelajar maupun mahasiswa, para perancang pendidikan, para pendidik, serta pengembang program-program pendidikan agar mengetahui teori pembelajaran dan dapat memahami bentuk-bentuk pembelajaran dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada baiknya dalam proses belajar mengajar seorang pendidik haruslah memahami konsep dasar dari teori belajar dan pembelajaran, sehingga dapat memahami setiap kondisi dari setiap situasi yang di alaminya di dalam kelas dengan para peserta didiknya.




DAFTAR RUJUKAN



Budiningsih, C. Asri. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta,

    2012.

Irham, Muhammad dan Noran Ardy Wiyani. Psikologi Pendidikan teori

    dan Applikasi dalam Proses Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,

    2004.

Nasrudin, Endin. Psikologi Manajemen. Bandung: CV Pustaka Setia,

    2010.

Sholichin, M. Muchlis. Aplikasi Teori-Teori Bekerja dalam Proses

   Pembelajaran. Surabaya: Pena Salsabila, 2013.

Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. Pengembangan Wacana dan

    Praktek Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-

    Ruzz Media, 2011.

Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inofatif Progresif. Jakarta:

    Kencana, 2010.





[1] Muhammad Thobroni dan Arif mustofa,  Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm.157.
[2] M. Muchlis Sholichin, Aplikasi Teori-Teori Belajar dalam Proses Pembelajaran (Surabaya: Pena Salsabila, Pebruari 2013), hlm. 1106-107.
[3] Muhammad Thobroni dan Arif mustofa,  Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasiona (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm.158.
[4] C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 76-78.
[5] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 28.
[6] M. Muchlis Sholichin, Aplikasi Teori-Teori Belajar dalam Proses Pembelajaran (Surabaya: Pena Salsabila, Pebruari 2013), hlm. 111.
[7] Ibid. 112
[8] M. Muchlis Sholichin, Aplikasi Teori-Teori Belajar dalam Proses Pembelajaran (Surabaya: Pena Salsabila, Pebruari 2013), hlm. 114-116.
[9] C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 58.
[10] C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm.58-59.
[11] C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 59-60.
[12] Ibid. 60.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar