Selasa, 17 April 2018

MANAJEMEN KURIKULUM PESANTREN


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga non formal yang tersebar di Indonesia. Dimana pondok pesantren lahir ditengah-tengah masyarakat . Setiap pondok pesantren memiliki ciri khas yang berbeeda-beda tergantung dari bagaimana pemimpinnya dan mitode sepeerti apa yang diharapkan yang akan diterapkan di pondok pesantren tersebut.

Seiring dengan perkembangan zaman, tidak sedikit pesantren yang mencoba untuk menyesuaikan dan bersedia menerima akan suatu perbahan, namun tidak sedikit pula pesantren yang memiliki sikap penutup dari segala-segala perubahan dan pengaruh perkembangan zaman dan cenderung mempertahakan apa yang telah menjadi keyakinan.

Untuk itu disini akan menjelaskan hal-hal yang berbaur dengan kurikulum yang berada di pesantren. Karena kurikulum yang ada di pondok pesantren merupakan  kurikulum yang dirancang sendiri oleh ketua lembaganya, baik itu kiai atau ketua pondoknya. Dari sini kita bisa mengetahui bagaimana proses perancangan untuk membuat kegiatan-kegiatan, baik itu dalam proses pembelajaran atau berupa praktek yang ada di pondok pesantren.

  1. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Manajemen Kurikulum Pesantren?
  2. Apa ruang lingkup Manajemen Kurikulum Pesantren?
  3. Apa saja fungsi Manajemen Kurikulum Pesantren?
  4. Bagaimana Implementasi Manajemen Kurikulum Pesantren?

  1. Tujuan penulisan

  1. Untuk mengetahui pengertian Manajemen Kurikulum Pesantren.
  2. Agar bisa memahami ruang lingkup Manajemen Kurikulum Pesantren
  3. Untuk mengetahui fungsi Manajemen Kurikulum Pesantren
  4. Untuk memahami bagaimana penerapan Manajemen Kurikulum Pesantren.



 BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pendahuluan

Kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa adanya kurikulum yang baikdan tepat maka akan sulit dalam mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang telah dicita-citakan oleh suatu lembaga pendidikan, baik formal atau informal maupun non formal. Karena segala sesuatu harus ada manajemennya bila ingin menghasilkan sesuatu yang baik, sesuai dengan yang diharapkan.

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan ummat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Istilah pondok pesantren pertama kali dikenal di jawa. [1]

Dimana krikulum senantiasa mengalami perubahan, perbaikan dan pembaharuan. Di Indonesia telah tercata dalam sejarah pendidikannya telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum seiring perubahan dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Disamping kurikulum formal dan informal terdapat juga kurikulum tersembunyi. Dimana kuriulum ini antara lain berupa aturan-aturan yang tidak tertulis yang tetunya kurikulum ini bisa berkonotasi positif maupun negatif.

Apabila hal ini dikaitkkan dengan pesantren sebagai lembaga pendidikan bahwa konsep yang digunakan dalam pondok pesantren tidak hanya mengacu pada pengertian kurikulum sebagai materi saja, melainkan jauh lebih luas dari pada itu, yakni menyangkut keseluruhan pengalaman belajar santri yang masih berada dalam lingkup koordinasi pondok atau pesantren.  Termasuk didalamnya sistem pendidikan dan pengajaran yang berlaku di pesantren, yang mana perlu diadakan suatu rekontruksi sesuai dengan tuntutan masyarakat dan jaman. Sehingga misi dan cita-cita pondok pesantren dapat berpera dalam pembangunan masyarakat.[2]

Salah satu keuikan pondok pesantren adalah independensinya yang kuat, dimana masyarakat memiliki keleluasan dan kebebasan relatif yang tidak harus memihak atau mengikuti model baku yang ditetapkan oleh pemerintah dlam bidang pendidikan. Pesantren bebas mengembangkan pendidikannya tanpa harus mengikuti standarisasi dan kurikulum yang ketat.

  1. Pengertian Manajemen Kurikulum Pesantren

Sebelum kita mendalami tentang pengertian manajemen kurikulum yang ada di pesantren, disini kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian manajemen, pengertian kurikulum, dan pengertian pesantren. Dengan tujuan agar kita lebih memahami dan mendalami serta bisa mengasah lebih dalam lagi tentang materi manajemen kurikulum pesantren.

Sebagaimana kita telah ketahui tentang pengertian manajemen, bahwasanya manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan  terhadap suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang kita inginkan secara efektif dan efisien.

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada pesrta didik dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam definisi lain mengatakan kurikulum adalah suatu kegiatan pelaksanaan siswa baik di dalam kelas atau di luar kelas. Kurikulum adalah sejumlah matei pelajaran yang harus ditempuh dalam suatu mata pelajaran atau disiplin ilmu tertentu, seperti kurikulum Pendidikan Bahasa Arab, Kurikulum Pendidikan Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Kurikulum juga diartikan sebagai garis-garis besar materi yang harus dipelajari oleh siswa disekolah untuk mencapai tingkat tertentu, atau sejumlah pelajaran dan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dibawah bimbingan dan pengawasan sekolah atau lembaga lainnya.[3]

Pesantren adalah sebuah pendidikan baik itu tradisional atau modern yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama (ponduk) untuk tempat tinggal dimana santri itu menginap.[4]

Mengenai pengertian dari manajemen kurikulum pesantren adalah  segenap proses usaha bersama untuk memperl ancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar dikalangan  siswa atau santri. Sedangkan kurikulum itu mempunyai dua arti yaitu, sempit dan luas. Kurkulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik itu teori maupu praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. Sedangkan dalam arti luas kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan ke khasan, kondisi dan potensi daerah satuan pendidikan dan peserta didik. oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan potensi yang ada di daerah.[5]

  1. Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum Pesantren

Untuk menghasilkan lulusan yang mempuyai kompetensi yang disebutkan dalam tujuan kurikulum pendidikan Agama Islam (menjaga akidah dan ketakwaan, menjadikan landasan untuk lebih rajin mempelajari ilmu agama, mendorong anak didik lebih kreatif, dan menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat.[6]

Maka isi materi kurikulum yang berada didalam pendidikan agana Islam harus didasarkan dan dikembangkan dari dua sumber pokok. Yaitu Al-quran dan sunnah Nabi Muhammad. Disamping itu, materi pendidikan agama Islam juga diperkaya dengan hasil istimbat dan ijtihad para ulamak, sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum, lebih rinci dan mendetail.



Kurikulum Pendidikan Agama Islam mewujudkan keharmonisan, keserasian, dan keseimbangan antara lain:

  1. Hubungan manusia dengan sang kholik
  2. Hubungan manusia dengan manusia
  3. Hubungan manusia dengan mahluk lain
  4. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri

Keempat hubungan tersebut tercakup dalam kurikulum pendidikan Islam yang tersusun dalam beberapa mata pelajaran: Akidah Akhlak, Fiqh, Al-quran Hadist, SKI, dan Bahasa Arab. Mata pelajaran tersebut merupakan ruang lingkup pendidikan Agama Islam yang disajikan pada sekolah-sekolah yang berciri khas agama islam atau madrasah, sementara ruang lingkup pendidikan agama Islam pada sekolah-sekolah umum adalah mata pelajaran pendidikan agama islam yang bentuk kurikulumnya Broad Field atau in one system.

Dan sedangkan lembaga pondok pesantren tentu tentu lebih banyak lagi mata  pelajaran, umumnya kurikulum pendidikan agama islam pada pondok pesantren terdiri dari mata pelajaran yang terpisah-pisah (sparated subject curriculum), seperti: tauhhid, tajwid, fiqh, ushul fiqh, ilmu hadist, ilmu nahwu sharraf, dan lain-lain.[7]

  1. Fungsi Manajemen Kurikulum Pesantren

Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya kearah tujuan  pendidikan. Kurikulum itu segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah termasuk guru dan sarana prasarana lainnya. Sebagai program belajar bagi siswa disusun secara sistematis dan logis diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai progran belajar, kurikulum adalah niat, rencana dan harapan.

Menurut Alexander Ilnglis fungsi kurikulum meliputi:

  1. Fungsi penyesuaian, karena individu hidup dalam lingkungan, sedangkan lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis, maka setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis.
  2. Fungsi integrasi, kurikulum berfungsi mmendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh karenna individu itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
  3. Fungsi deferensiasi, kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orangberfikir kritis dan kreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
  4. Fungsi persiapan, kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjutuntuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun kemasyarakat.
  5. Fungsi pemilihan, antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya.
  6. Fungsi Diasnigtik, salah satu pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh seorang peserta didik.


  1. Implemenntasi Manajemen Kurikulum Pesantren

Ada banyak pesantren modern yang menerapkan manajemen kurikulum dalam proses belajar menagajar, atau pendidikan di dalam pesantren itu sendiri, namun bagi pesantren yang mengikuti pola salaf (tradisional), mungkin dirumuskan secara baik. Kurikulum pesantren salaf yang statusnya sebagai lembaga pendidikan non-formal hanya mempelajari kitab-kitab klasik yang meliputi ilmu tauhid, tafsir, hadist, fiqh, tasawwuf, bahasa arab (nahwu sorrof, balaghah dan tajwid), mantik dan akhlak. Pelakksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasrkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab. Jadi, ada tingkat awal, menengah dan tingkat lanjutan. Gambaran naskah yang harus dibaca dan dipelajari oleh santri. Menurut Zamakhsyari Dhofier mencakup kelompok “nahwu dan sharraf, tafsir, hadist, tauhid, dan cabang-cabang yang lainnya seperti tarikh dan balaghah.[8]

Adapun karakteristik kurikulum yang ada pada pondok pesantren modern, mulai diadaptasikan dengan kurikulum pendidikan islam yang disponsori oleh Departemen Agama melalui sekolah formal (madrasah). Kurikulum khusus pesantren dialokasikan dalam muatan lokal atau diterapkan melalui kebijakan sendiri.

Gambaran kurikulum lainnya adalah pada pembagian waktu belajar, yaitu mereka belajar keilmuan sesuai dengan kurikulum yang ada diperguruan tinggi (sekolah) pada waktu-waktu kuliah. Waktu selebihnya dengan jam pelajaran yang padat dari pagi sampai malam untuk mengkaji ilmu islam khas pesantren (pengajian kitab klasik). Fenomena pesantren sekarang yang mengadopsi pengetahuan umum untuk para santrinya, tetapi masih tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik merupakan upaya untuk menuruskan tujuan utama lembaga pendidikan tersebut, yaitu pendidikan calon ulama yang setia pada paham islam tradisional.

Kurikulum pendidikan pesantren modern merupakan perpaduan antaran pesantren salaf dan sekolah umum. Diharapkan akan memunculkan output pesantren yang berkualitas yang tercermin dalam sikap aspiratif, progresif dan tidak ortodoks, sehingga santri bisa secara beradaptasi dalam setiap bentuk perubahan peradaban dan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat karena mereka bukan golongan eksklusif dan memiliki kemampuan yang siap pakai.[9]

  1. Hasil Observasi Di Pondok Pesantren Miftahul Qulub Polagen


  1. Biodata
                Yayasan                     : Ponpes Miftahul Qulub Polagan

            Ketua yayasan     : KH.ABD MANNAN

            Ketua pondok      : MOH ZAINI Sp.d

  1. Hasil Observasi

                             Berdasarkan hasil Observasi yang kami lakukan di Ponpes Miftahul Qulub Polagan Pamekasan, dengan ketua pondok Moh. Zaini Sp.d. beliau mengatakan bahwasannya yang berperan dalam pembentukan kurikulum adalah kiai, karena kiai disini yang mepunyai wewenang untuk merancang susunan kurikulum yang ada di pondok pesantren.

                             Manajemen kurikulum pesantren pegelolaan tentang seluruh aktifitas yang berkenaan dengan para santri yang ada di pondok kami, yang mana kurikulum dipersantren dikelola agar mencipatakan suasana santri yang mudah diarahkan kearah ranah  yang lebih baik dan sempurna. Tidak mudah dalam menjalankan kurikulum pesantren, terkadang sulit mengarahkan para santri untuk melakukan semua kegiatan seperti yang telah tersusun terlebih dahulu, karena para santri harus menyesuaikan dengan kurikulum yang ada di pesantren kami.

                             Adanya pengelolaan kurikulum agar apa yang menjadi cita-cita kami sebagai transfer of knowligh tercapai dengan baik  dengan pengelolaan kurikulum ini diharapkan terciptanya lingkungan pesentren sebagai tempat yang mengenangkan dan tidak menbosannkan, dengan harapan besar kurikulum yang ada di pesantren kami menjadi ”Agen Of Change” terhadap para santri kami dan masyarakat sekitar. Maka dari itu kami merancang kurikulum pesantren ini agar dapat menciptakan para santri yang ada dipesantren yang lebih baik karena dengan adanya kurikulum ini dapat melatih dan mencetak para santri yang insan, dengan adanya pengelolaan kurikulum ini kami dapat melatih para santri kami untuk  disiplin  baik ubudiyahnya atau disiplin waktu dalam mengerjakan segala sesuatunya.

                             Karena dengan terciptanya kedisiplinan atau ke istqomaan dalam segala hal dapat mendorong para dan membantu para santri kami mencapai keinginan duniawi dan uhkrowinya, dan dengan adanya kurikulum tersebut segala kegiatan khusunya yang ada dipesantren kami berjalan dengan efektif dan efesien. Adapun  ruang lingkup manajemen pesantren ini. Merencanakan, mengelola dan menggunakan sumber daya baik itu sumber daya manusia (SDM) atau sumber daya alam (SDA) secara efektif dan efesien untuk tujuan pengembangan, kemajuan kualitas proses dan hasil pendidikan di pesantren kami dan segala hal yang mejadi aktivitas para santri kami karena manajemen kurikulum ini merupakan koordinasi segala kegiatan dalam pesantren kami, kami dalam manajemen kurikulum ini tidak pernah lupa agar menyertakan banyak pengurus pondok, ustad, para santri, dan masyarakat sekitar. Karena dengan dikontrolnya semua pihak tersebut bisa melaksanakan kurikulum yang ada pada pesantren kami.

Description: F:\IMG-20170327-WA0012.jpg

Keterangan :

03,30-04:30 santri diwajibkan bangun dan mandi untuk  persiapan berjamaah subuh, sambil lalu menunggu imam datang maka semua santri membaca shalawat nariyah sampai imam datang (kyai). 04:30-05:00 berjamaah shoalat subuh, setelah berjamaah tepatnya pada jam 05:00-06:30 para santri dimelakukan pengajian alquran di masjid dan adapula yang di surau. karena setiap tingkatan itu berbeda. Adapun untuk kelas sifir sampai kelas 4 awwaliyah mengaji alquran di masjid. Sedangkan untuk kelas 1 wustho keatas itu mengikuti kajian tafsir alquran yaitu tafsir aljalalain yang diisi langsung oleh kiai. Setelah kajian tafsir selesai maka semua santri berkumpul lagi di masjid untuk mengikuti kajian hadits bersama kiai. Dan setelah kajian hadits, semua santri di wajibkan untuk sholat dhuha bersama. Khusus hari jumat dan selasa diisi dengan istiwasah dan ngaji yasin bejam rsama. Setelah jam 06:55-12:40 santri masing-masing mengikuti pembelajarn masing. 12:40-15:30 para santri diharuskan hadir kemasjid untuk melaksanakan sholat duhur berjamaan sekaligus isoma. Setelah jam 16:00-16:30 santri diharuskan stembai di masjid untuk melakukan sholat berjamaah ashar, pada 17:00-17:35 persiapan sholat maghrib sampai jam 17:35-18:10 sholat berjamaah magrib  dilanjut dengan tadarus dan pengkajian kitab di surau sampai pada waktunya sholat berjamaah isyak pada jam 19:10-19:30, dialanjut dengan pengkajian kitap secara khusus dan sesuai dengan tingkatannya pada jam 19:45-21:30 dan istirahat sampai jam 21:45, dan dialanjut dengan diskusi bersama, dilanjut dengan isoma dan piket malam atau ronda di pintu masuk sampai jam 03:30. adapun sanksi bagi para santri yang melanggar maka akan dikenakan sanksi.















































BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan  terhadap suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang kita inginkan secara efektif dan efisien.

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada pesrta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.

Manajemen kurikulum pesantren adalah  segenap proses usaha bersama untuk memperl ancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar dikalangan  siswa atau santri. Sedangkan kurikulum itu mempunyai dua arti yaitu, sempit dan luas. Kurkulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua pelajaran baik itu teori maupu praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu.

Untuk menghasilkan lulusan yang mempuyai kompetensi yang disebutkan dalam tujuan kurikulum pendidikan Agama Islam (menjaga akidah dan ketakwaan, menjadikan landasan untuk lebih rajin mempelajari ilmu agama, mendorong anak didik lebih kreatif, dan menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat

Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya kearah tujuan  pendidikan. Kurikulum itu segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah termasuk guru dan sarana prasarana lainnya. Sebagai program belajar bagi siswa disusun secara sistematis dan logis diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai progran belajar, kurikulum adalah niat, rencana dan harapan.

Ada banyak pesantren modern yang menerapkan manajemen kurikulum dalam proses belajar menagajar, atau pendidikan di dalam pesantren itu sendiri, namun bagi pesantren yang mengikuti pola salaf (tradisional), mungkin dirumuskan secara baik. Kurikulum pesantren salaf yang statusnya sebagai lembaga pendidikan non-formal hanya mempelajari kitab-kitab klasik yang meliputi ilmu tauhid, tafsir, hadist, fiqh, tasawwuf, bahasa arab (nahwu sorrof, balaghah dan tajwid), mantik dan akhlak. Pelakksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasrkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab.

Pesantren adalah sebuah pendidikan baik itu tradisional atau modern yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama (pondhuk) untuk tempat tinggal dimana santri itu menginap.

  1. Saran

Kami sebagai pemakalah mohon maaf apabila dalam makalah ini terdapat  kekeliruan baik itu dalam penulisan atau penyusunan. bahwasanya kami menyadari dalam penyusunan makalah ini, jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami selaku penyusun, sangat mengharapkan saran dan kritikannya kepada para pembaca, segenap mahasiswa dan terutama kepada Dosen pengampu yang sifatnya membangun, supaya kami bisa terus berkembang lebih baik lagi. Kami sebagai pemakalah ucapkan terima kasih.

























DAFTAR PUSTAKA

Dhofier. Zamakhsyari Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES Cet2, 1994.

Dulai, Hidar Putra. Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.

Hamdan, H. Pengembangan dan Pembinaan Kurikulum PAI. Banjarmasin: FKPI2, 2009.

Muslam. Pengembangan Kurikulum PAI Teoritis dan Praktis. Semarang: FKPI2, 2008.

Yasmadi. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Zaini, Muhammad. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta, Teras Komplek Polri Gowok, 2009.





[1] Hidar Putra Dulai, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hlm. 11
[2] Yasmadi, Modernisasi Pesantren, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 78
[3] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta, Teras Komplek Polri Gowok, 2009), hlm. 2
[4] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, Cet2, 1994), hlm. 18
[5] Yasmadi, Modernisasi Pesantren, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 62
[6] H. Hamdan, Pengembangan dan Pembinaan Kurikulum PAI, (Banjarmasin: FKPI2, 2009), hlm. 40
[7] Ibid., hlm. 41-42
[8] Muslam, Pengembangan Kurikulum PAI Teoritis dan Praktis (Semarang: FKPI2, 2008), hlm. 64
[9] Ibid., hlm. 67

Tidak ada komentar:

Posting Komentar